Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Sekelumit Sejarah Pemberontakan DI/TII di Desa Cibugel, Sumedang

Tugu Peringatan Pemberontakan DI/TII di depan Kantor Desa Cibugel, Sumedang 

"Iya, itu tugunya," Sahut seorang bapak mengiyakan ketika saya bertanya, "Pak, apa betul ini tugu peringatan terhadap pemberontakan DI TII, yang banyak diceritakan itu?"

Yap, kala itu dihadapan saya berdiri sebuah tugu berbentuk vertikal, tegak lurus dengan tinggi sekitar 5 meteran yang berada tepat di depan kantor Desa Cibugel, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang.

Desa Cibugel, adalah salah satu desa yang berada di lingkup Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang. Kecamatan Cibugel sendiri, merupakan kecamatan paling ujung yang menjadi etalase Sumedang dan berbatasan langsung dengan daerah tetangga, Kabupaten Garut.

Menurut beberapa sumber, konon Desa Cibugel ini telah berdiri sejak tahun 1875. Dengan usia yang cukup tua tersebut, otomotatis desa Cibugel menjadi bagian dari sejarah Indonesia dan ikut mengalami beberapa fase perjalanan sejarah mulai dari penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, hingga pemberontakan dan pergolakan yang dialami bangsa Indonesia di masa-masa awal kemerdekaannya.

Pada masa penjajahan Belanda, kawasan Desa Cibugel dijadikan perkebunan teh untuk keperluan ekspor. Lalu pada masa penjajahan Jepang, perkebunan teh tesebut diganti tanaman kacang tanah dan komoditi lainnya. Nah, pada fase berikutnya, yaitu pada masa pergolakan di awal-awal kemerdekaan Republik Indonesia, Desa Cibugel mengalami sebuah fase yang begitu mengerikan yang akan kita bahas kali ini yaitu pemberontakan gerakan separatis DI/TII.

Desa Cibugel, Kabupaten Sumedang merupakan salah satu tempat yang dijadikan arena pembantaian oleh separatis DI/TII di Jawa Barat. Tak kurang 130-an orang warga desa tewas dalam satu malam, dalam peristiwa tersebut.

Diceritakan, di masa-masa pergolakan tersebut yaitu tahun 1945-1959 (dengan puncaknya tahun 1959), anggota DI/TII memang kerap menyatroni kawasan Desa Cibugel untuk mendapatkan persediaan makanan dan barang-barang lainnya untuk bertahan hidup. Kenapa Desa Cibugel? karena mungkin, desa tersebut menjadi tempat yang paling dekat dengan persembunyian mereka di kawasan hutan antara Sumedang - Garut. Selain itu, warga Desa Cibugel juga jelas-jelas menyatakan diri mendukung Republik Indonesia, karenanya mereka mendapat tekanan langsung atau permusuhan dari gerombolan DI/TII.

Pada saat penyerangan, ribuan anggota DI/TII yang juga disebut gerombolan, menyerang Desa Cibugel dengan bersenjatakan bambu runcing, golok, juga senapan. Mereka mengajukan pilihan, mendukung gerakan DI/TII, atau mati. Mereka tak segan mempertontonkan kekejaman di hadapan penduduk, mereka tak ragu untuk membantai salah satu diantara mereka yang lebih memilih mendukung Republik Indonesia. Rumah penduduk yg lebih memilih NKRI pun, dibakar.

Banyak sesepuh desa yang masih ingat, betapa mengerikannya situasi penyanderaan warga Desa Cibugel saat itu. Apalagi, gerombolan tak pilih-pilih dalam melakukan aksinya, orang tua, anak-anak, dan wanita hamil yang tak sepaham semua ikut jadi korbannya. Belanda hideung (Belanda hitam) adalah sebutan dari gerombolan DI/TII untuk siapa saja warga yang tidak mendukung gerakan mereka. Dan berjatuhanlah korban sekitar 130-an orang yang tak mendukung berdirinya DI/TII sebagai Belanda Hideung di mata mereka.

Lalu, oleh gerombolan DI/TII, sebanyak 130-an korban tersebut dikuburkan di sebuah tempat, yang kini, di tempat kuburan massal tersebut dibangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Asy-Syuhada, Masjid Agung Kecamatan Cibugel.

Masjid Asy-Syuhada, depan Kantor Desa Cibugel, Sumedang

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar