Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Cut Nyak Dien, Dalam Pengasingannya di Sumedang

Cut Nyak Dien
Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien
Sumber Gambar : Wikipedia
Selamat siang sobat, bagaimana kabarnya hari ini? lama tidak berjumpa, pada kesempatan kali ini admin ingin mencoba sedikit menuliskan kembali tentang seorang tokoh yang ada kaitannya dengan Kabupaten Sumedang, namun beliau bukanlah tokoh asli asal Sumedang seperti misal Bapak Rd. Umar Wirahadikusumah yang merupakan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-4, beliau adalah seorang pejuang asal Aceh yang diasingkan ke Sumedang yaitu Cut Nyak Dien.

Komplek Pemakaman Gunung Puyuh
Komplek Pemakaman Gunung Puyuh, Sumedang
Seperti yang telah tercatat dan dituturkan dalam sejarah Nasional Indonesia, Kabupaten Sumedang merupakan tempat pengasingan salah satu Pahlawan Nasional perempuan asal Aceh yaitu Cut Nyak Dien,  istri dari Teuku Umar ini diasingkan dari Aceh ke Sumedang oleh pemerintah Belanda karena kegigihannya dalam melawan penjajahan Belanda di daerahnya, selain itu, ia juga dianggap mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam menyatukan masyarakat Aceh untuk melawan Belanda. Menurut beberapa sumber beliau diasingkan dari Aceh ke Kabupaten Sumedang hingga wafat pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Komplek Pemakaman Gunung Puyuh Sumedang.

Makam Cut Nyak Dien
Makam Cut Nyak Dien
Semasa beliau diasingkan ke Sumedang, seluruh hidupnya dibaktikan untuk mengajar ilmu agama pada penduduk sekitar, dan masyarakat Sumedang kala itu pun begitu kagum pada semangatnya, ketulusannya, serta kefasihan beliau dalam ilmu agama, sehingga beliau mendapat panggilan atau sebutan "Ibu Perbu" yang berarti "Ratu". Selama di Sumedang, beliau tinggal di sebuah rumah yang berada di belakang Masjid Agung Sumedang. Rumah tinggal Cut Nyak Dien tersebut berada di daerah Kaum, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan dan berdekatan juga dengan benteng peninggalan Belanda di Gunung Kunci.

Bekas Rumah Tinggal Cut Nyak Dien di Sumedang
Seperti telah disebutkan di atas, selama pengasingannya  di Sumedang beliau diterima dengan baik oleh masyarakat dan dirawat dengan baik pula oleh bupati Sumedang kala itu, Pangeran Aria Soeria Atmadja, beliau hidup dalam kesederhanaannnya, hingga masyarakat kala itu tidak mengetahui bahwa perempuan yang mereka kagumi dan mereka anggap sebagai guru itu adalah Cut Nyak Dien, seorang perempuan bangsawan dari Kesultanan Aceh, pejuang yang begitu gigih berjuang melawan penjajahan di daerahnya. Masyarakat Sumedang baru tahu bahwa Ibu Perbu adalah Cut Nyak Dien justru melalui kabar yang disampaikan oleh Pemerintah Indonesia setelah Indonesia merdeka, lama setelah beliau meninggal.

Sekretariat KAMAS
Sekretariat KAMAS
Selain makam dan bekas rumah tinggal Cut Nyak Dien, di Sumedang juga sobat bisa menjumpai sekretariat KAMAS (Keluarga Masyarakat Aceh Sumedang), dimana salah satu tujuan didirikannya KAMAS adalah untuk memelihara dan merawat makam Cut Nyak Dien. Sekretariat KAMAS ini terletak di depan Komplek Pemakaman Gunung Puyuh tempat Cut Nyak Dien dimakamkan, di tempat ini sobat juga bisa menikmati masakan khas Aceh  seperti Mie Tumis Aceh.

Menurut informasi dari salah satu skripsi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (tapi admin lupa lagi nama penulisnya, mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan dalam penulisan kembali ini) yang dulu pernah admin catat, KAMAS didirikan pada tanggal 20 Februari 1996 oleh beberapa orang Aceh yang berdomisili di Sumedang, lalu pada 9 April 2008 KAMAS resmi diakui dan terdaftar sebagai Organisasi Kemasyarakatan di Kabupaten Sumedang melalui Surat Keputusan Badan Kesatuan Bangsa Pemerintah Kabupaten Sumedang Nomor 220/136/Org./BKB/2008.

Relief Pada Nisan
Uraian Singkat yang Dipahat Pada Batu Nisan
Makam Cut Nyak Dien
Dari cerita di atas, tentunya kita harus bisa meneladani sifat dan sikap beliau berkaitan dengan sifat dan sikap seorang pahlawan agar kita bisa berguna bagi saudara, bangsa, dan agama, sifat dan sikap seorang pahlawan diantaranya adalah :
  1. Tegas dan keras terhadap para penjajah atau penindas,
  2. Berkasih sayang dan lembut kepada saudara sebangsa, setanah air ,dan tidak mudah diadu domba,
  3. Tidak mudah menyerah, berjuang hingga titik darah penghabisan, baik dari segi fisik maupun pikiran,
  4. Mempelajari Agama, serta mengamalkan dan mengajarkan kembali ilmu agama yang dimiliki, sampaikan walau hanya satu ayat,
  5. Mengefektifkan waktu yang ada, tidak suka berfoya-foya dan membuang-buang waktu percuma.
Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dengan judul "Cut Nyak Dien, Dalam Pengasingannya di Sumedang" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2013/12/cut-nyak-dien-dalam-pengasingannya-di.html

    You Might Also Like:

    Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
    Buka Komentar