Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Bambu Awi Tali Sumedang "Nampang" di Sebuah Pameran di Frankfurt, Jerman

Tali Awi Sumedang Melanglang Buana Ke Jerman
Image By :
tempo.co
Bambu, apa yang pertama kali sobat pikirkan ketika mendengar nama tanaman yang satu ini? Bagi sobat yang orang Sumedang, mungkin pikiran akan langsung tertuju pada bongsang tahu, ya, jadi mungkin sobat akan menjawab bambu adalah bahan baku untuk membuat bongsang tahu, bukan begitu? atau mungkin juga sobat akan menjawab bambu adalah bahan baku untuk membuat berbagai macam peralatan rumah tangga, bahan alat kesenian, dan lainnya, yang jelas bambu bisa dipergunakan untuk berbagai macam keperluan, terutama oleh masyarakat pedesaan. Itu dikarenakan bambu memiliki batang yang kuat, lentur, lurus, dan ringan sehingga mudah untuk diolah menjadi berbagai produk.

Selain itu, bambu juga sangat bermanfaat dalam konservasi tanah dan air, seperti diketahui, pohon bambu seringkali dipergunakan untuk penangkal erosi tanah, utamanya di pinggiran sungai. Itu dikarenakan ia memiliki sistem perakaran yang banyak, yang tentunya juga bisa menghasilkan rumpun yang banyak dan bisa menahan tanah dengan baik, pun juga sangat berperan dalam menjaga ketersediaan air.

Sayang, dengan segala kegunaannya tersebut, masyarakat masih kurang menghargai sumberdaya yang satu ini. Seperti yang diungkap dalam sebuah buku (Rifai, 1994 dalam Widjaja, dkk, 1994) dikatakan "walaupun manfaat dan peranan bambu cukup banyak, penghargaan masyarakat terhadap sumberdaya ini  masih kurang, bahkan berbagai aspek pengetahuan tentang bambu banyak yang  belum tergali secara optimal,".

Dalam hal nilai produk, salah satu buktinya bisa dilihat dari harga berbagai perkakas yang dibuat dari bambu, bambu Awi Tali misalnya yang sering dibuat aseupan atau bongsang Tahu Sumedang. Untuk aseupan harganya tidak menembus Rp. 10.000, pun demikian dengan bongsang tahu yang hanya dihargai Rp. 28.000 per 100 buah seperti pernah admin ceritakan di artikel berjudul Melihat Dari Dekat Perekonomian Pengrajin Bongsang.

Kabupaten Sumedang sendiri, menurut data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sumedang pada tahun 2001 merupakan salah satu penghasil bambu yang cukup besar di Jawa Barat, dimana hampir semua Kecamatan di Kabupaten Sumedang memiliki luas talun bambu atau kebon awi yang tidak kurang dari 10 hektar.
Awi Tali Biasa Dipakai Sebagai Bahan Baku Membuat Bongsang Tahu
Dari banyak jenis bambu yang ada di Kabupaten Sumedang seperti Haur Hejo, Haur Koneng, Awi Bitung, Betung, Awi Surat, Awi Tali, Awi Hideung, dan lainnya, Awi Surat dan Awi Tali atau G. apus adalah yang paling banyak tumbuh. Itu terjadi karena bambu jenis ini sengaja dibudidayakan oleh masyarakat, tentu, budidaya G. apus itu berkaitan dengan pemanfaatan bambu jenis ini untuk keperluan bahan dasar dari berbagai anyaman seperti yang tadi telah disebutkan, yaitu bongsang tahu, aseupan, sampai bilik untuk keperluan membuat rumah.

Awi Tali atau G. apus yang hasil olahannya mempunyai nilai ekonomi cukup rendah di skala lokal ini, ternyata bisa disulap menjadi karya seni yang sangat indah dan bahkan ditampilkan di mancanegara, tepatnya di Frankfurt, Jerman. Ya, bambu Awi Tali Sumedang muncul di pameran bertema Root-Indonesian Contemporary Art yang berlangsung di Frankfuter Kunstverein, Frankfurt, Jerman, beberapa waktu lalu. Spektakuler sekali bukan?!! bambu Awi Tali yang kita pandang sebagai bahan dasar biasa untuk membuat berbagai anyaman yang juga biasa, ternyata bisa melanglangbuana ke mancanegara jika berada di tangan orang yang tepat.

Dilansir dari harian elektronik Tempo.co, seniman Indonesia bernama Joko Avianto yang merupakan lulusan dari Fakultas Desain dan Seni, Institut Teknologi Bandung ini memboyong banyak Awi Tali asal Sumedang ke Frankfurt Jerman, untuk selanjutnya ia menjadikan bambu tersebut sebagai bahan dasar untuk membuat karya seninya yang spektakuler.

Karya seni yang membuat banyak warga Frankfurt dan pengunjung kafe Frankfuter Kunstverein terperangah itu ia beri nama Big Trees, yang disusun oleh lebih dari 1500 bambu Awi Tali. Ia memilin, memelintir, dan menganyam bambu itu membentuk sebuah karya yang mengagumkan. Pohon karya Joko ini berukuran panjang 14 meter, kedalaman 5 meter dan tinggi 9 meter. Ratusan bambu ini tertopang pada 100 batang bambu yang ditanam pada beton seukuran 1 x 1 meter persegi.

Bagaimana, sobat? Amazing sekali bukan? ini mungkin menjadi salah satu pembuktian bahwa barang atau sesuatu yang kita pandang biasa-biasa saja sebenarnya bisa disulap menjadi sesuatu yang luar biasa, namun  tentunya ini memerlukan keterampilan, kreasi, dan juga imajinasi. Mudah-mudahan kita juga bisa menjadi seseorang yang seperti itu, yang mampu berkreasi, menjadikan apa-apa saja yang terlihat biasa, menjadi luar biasa.

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dalam judul post "Bambu Awi Tali Sumedang "Nampang" di Sebuah Pameran di Frankfurt, Jerman" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2015/10/bambu-awi-tali-sumedang-nampang-di.html"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar