Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Kurupuk Bangreng, & Romantisme Masa Kecil

kurupuk bangreng
Kurupuk Bangreng
Kurupuk Bangreng, apa sobat ada yang tahu makanan ini? admin bertanya demikian karena admin kurang tahu apa generasi sekarang masih ada yang mengenal camilan yang satu ini atau tidak, admin katakan demikian karena sepertinya makanan ini sudah jarang bisa ditemui sekarang. Bagi anak-anak Sumedang angkatan tahun 80-90an seperti admin mungkin dulu makanan ini adalah makanan atau jajanan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari, dan melihatnya lagi sekarang seolah membangkitkan kenangan dengan romantismenya tersendiri, rindu masa kecil, matak "waas" kalau kata orang Sunda bilang.

"Kurupuk" adalah bahasa Sunda dari "kerupuk", sedangkan Bangreng adalah nama salah satu kesenian asli Sumedang, jadi Kurupuk Bangreng adalah, ah, jujur sebenarnya admin kurang tahu juga kenapa makanan ini diberi nama Kurupuk Bangreng, tapi mungkin nama itu diberikan pada makanan ini karena kerupuk ini hanya dijajakan pada saat ada pergelaran seni atau pesta-pesta rakyat, seperti Kuda Renggong, hajat nikahan, pameran pembangunan tahunan, sampai acara 17 Agustusan.

Dengan kata lain, pedagang kerupuk ini kebanyakan hanya muncul dan menjajakan dagangannya jika ada acara-acara seperti tersebut diatas yang identik dengan keramaian dan "pesta", pedagangnya jarang menjajakan dagangannya pada hari-hari biasa walaupun itu dipusat keramaian seperti pasar, sekolah, dan lainnya. Itu mungkin sebabnya kerupuk ini dinamakan Kurupuk Bangreng, dimana kata "Bangreng" digunakan untuk mewakili pertunjukan atau keramaian tempat kerupuk ini sering dijajakan.

Pedagang Kurupuk Bangreng
Pedagang Kurupuk Bangreng ini biasanya membawa dagangannya dengan menanggung dua buah blek (tempat kerupuk) berukuran besar yang dihubungkan oleh kayu dan tali, ketika menjajakan dagangannya si pedagang cukup diam dan "mangkal" di tempat yang strategis ditengah keramaian, hal tersebut cukup dilakukan jika si pedagang menjajakan kerupuknya di sebuah acara seperti pertunjukan seni dan pesta rakyat, tapi jika acaranya berupa iring-iringan atau pawai seperti arak-arakan Kuda Renggong, otomatis si pedagang harus mengikuti iring-iringan tersebut dengan menanggung dua blek kurupuknya.

Bentuk makanannya sendiri berupa kerupuk yang ukurannya kecil-kecil, satu bungkus Kurupuk Bangreng terdiri dari banyak kerupuk yang dibungkus dalam kertas wajit yang berwarna-wani supaya lebih menarik, kertas pembungkus warna-warni tersebut dibentuk sesuai kreasi pedagangnya, namun biasanya kebanyakan berbentuk lonjong.

Pedagang Kurupuk Bangreng ini rata-rata adalah lelaki yang sudah berumur senja, mungkin sekarang hal tersebut terlihat sebagai bagian khas dari penjual Kurupuk Banggreng ini, tapi admin melihat ini bukan semata-mata ke"khas"an penjual Kurupuk Bangreng, tetapi ini terjadi karena generasi muda sekarang tidak ada yang mau menjadi perajin dan penjual kerupuk tradisional ini, jika keadaan seperti ini terus berlanjut entah berapa lama lagi Kurupuk Bangreng ini bisa bertahan, dan entah anak cucu kita nanti bisa tahu dan kenal makanan tradisional ini atau tidak.

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dengan judul "Kurupuk Bangreng, & Romantisme Masa Kecil" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2014/11/kurupuk-bangreng-romantisme-masa-kecil.html "

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar