Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Assalamualaikum. Selamat datang di web Insomnia Notes, semoga kesehatan dan kelimpahan rezeki selalu tercurah limpah kepada para pembaca semua. Melalui ini, saya Jeryanuar selaku admin mengajak para pembaca untuk mensuport akun Youtube admin dengan menonton dan subscribe di link berikut ini : Vlog Tahu Sumedang. Hanya dengan menonton dan subscribe, (gratis) sahabat sudah membantu channel tersebut untuk bisa terus berkembang. Terima Kasih.

×

Pangeran Aria Soeria Atmadja


Lukisan Pangeran Aria Soeria Atmadja di Museum Prabu Geusan Ulun

Pangeran Aria Soeria Atmadja, atau biasa disebut dengan Pangeran Mekah (panggilan ini diberikan kepada beliau karena wafat di Mekah ketika sedang menunaikan Ibadah Haji) adalah anak dari Pangeran Aria Soeria Koesoema Adinata dan R.A Ratnaningrat, Pangeran Aria Soeria Koesoema Adinata adalah bupati Sumedang dari tahun 1836-1882 yang juga mendapat gelar Pangeran Sugih, konon gelar Pangeran Sugih ini diberikan karena beliau adalah orang yang berada, "Sugih" sendiri dalam bahasa Sunda artinya adalah kaya, makmur.

Lukisan Pangeran
Aria Soeria Atmadja

Pangeran Aria Soeria Atmadja yang waktu kecilnya bernama Raden Sadeli ini lahir pada tanggal 11 Januari 1851. Sejak kecil beliau memang dikenal sebagai anak yang cerdas, kreatif, dan cekatan, tak heran ketika beliau tumbuh dewasa banyak penghargaan yang beliau raih. Tak hanya itu, beliau pun bisa berdialog dalam beberapa bahasa asing yaitu bahasa Belanda, Inggris, dan Perancis karena sejak kecil beliau sudah belajar bahasa asing tersebut di lingkungannya, itu karena beliau tumbuh di lingkungan keluarga bangsawan dan zaman yang kental dengan budaya feodal, yang membuatnya harus langsung bersentuhan atau berinteraksi dengan budaya asing.

Beliau memerintah di Sumedang pada kurun waktu antara tahun 1882 (aktif 1883) - 1919 ketika Sumedang sudah jatuh ke tangan Mataram, oleh karena itu penghargaan yang diarih pun kebanyakan adalah dari Kesultanan Mataram dan Belanda. Gelar penghargaan yang dianugrahkan kepada beliau selama bekerja di pemerintahan adalah :

1. Gelar Rangga, ketika menjabat Patih Manonjaya, pada tanggal 29 November 1875.
2. Gelar Tumenggung, pada tanggal 30 Desember 1882.
3. Anugerah Bintang Emas, pada tanggal 21 Agustus 1891
4. Gelar Adipati, pada tanggal 31 Agustus 1898.
5. Anugerah Bintang Officier Van De Orde Van Orange Nassau, pada tanggal 27 Agustus 1903.
6. Gelar Aria, diraih pada tanggal 29 Agustus 1905
7. Anugerah Songsong Kuning, pda tanggal 26 Agustus 1905
8. Gelar Pangeran dengan Payung Emas, diraih pada tanggal 26 Agustus 1910.
9. Anugerah Bintang Agung Ridder Der Orde Van Den Nederlandschen Leeuw, penghargaan tertinggi, diraih pada tanggal 17 September 1918.

Berbagai penghargaan tersebut beliau raih dalam merintis karir di pemerintahan semenjak masih muda, yaitu sejak diangkat sebagai Kaliwon pada usia 18 tahun, tepatnya pada tanggal 1 Agustus 1869 di Sumedang, dan kemudian diangkat menjadi Wedana Ciawi pada tanggal 7 Pebruari 1971. Pada tanggal 29 November 1875 beliau diangkat sebagai Patih Afdeling Sukapura kolot di Mangunreja, baru kemudian ketika beliau menginjak usia 32 tahun beliau diangkat menjadi bupati Sumedang pada tanggal 30 Desember 1882 dan dilantik terhitung sejak tanggal 31 Januari 1883 sebagai Bupati Sumedang.

Selama hidupnya, beliau mencurahkan seluruh tenaga, pikiran, bahkan hartanya untuk Sumedang, itu terbukti dari kegigihan dan keuletan beliau dalam bekerja sampai-sampai kabarnya beliau hanya tidur tidak lebih dari 4 jam setiap harinya. Tidak hanya itu, beliau tak segan-segan mengeluarkan banyak uang demi membangun Sumedang, salah satu contohnya adalah dengan membangun sekolah pertanian (yang konon menjadi sekolah pertanian pertama di Indonesia) di daerah Tanjungsari Sumedang yang kini menjadi kebanggaan masyarakat Sumedang pada khususnya dan Jawa barat pada umumnya.

Sepak terjang beliau yang gigih berjuang demi memajukan Sumedang ini mengundang simpati banyak kalangan, bahkan Pangeran Siching dari Belanda menghadiahkan penghargaan berupa pembangunan Monumen di tengah Alun-alun Sumedang untuk mengenang jasa-jasa beliau, monumen yang kemudian diresmikan oleh Jendral Dir Fock ini diberi nama Monumen Lingga dan menjadi lambang Kabupaten Sumedang saat ini.

Sosok pemimpin seperti inilah yang mungkin sekarang kita rindukan, yang tak merasa tenang selama rakyatnya berada dalam kesusahan, bersedia berkorban waktu, tenaga, pikiran, bahkan hartanya untuk memajukan negaranya dimana kesungguhan, kedisiplinan, kejujuran, keuletan dan mengesampingkan kepentingan pribadi menjadi modal utamanya. Belakangan ini Pangeran Aria Soeria Atmadja sudah diusulkan untuk masuk menjadi salah satu dari pahlawan nasional, semoga hal tersebut bisa cepat terwujud dan menjadi kebanggan kita semua.

*Disarikan dari www.archive69blog.blogspot.com , wikipedia, dan berbagai sumber lainnya

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dengan judul "Pangeran Aria Soeria Atmadja" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2014/05/pangeran-aria-soeria-atmadja.html "

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar