Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Assalamualaikum. Selamat datang di web Insomnia Notes, semoga kesehatan dan kelimpahan rezeki selalu tercurah limpah kepada para pembaca semua. Melalui ini, saya Jeryanuar selaku admin mengajak para pembaca untuk mensuport akun Youtube admin dengan menonton dan subscribe di link berikut ini : Vlog Tahu Sumedang. Hanya dengan menonton dan subscribe, sahabat sudah membantu channel tersebut untuk bisa terus berkembang. Terima Kasih.

×

Pacuan Kuda Dalam Cerita


Arena Pacuan Kuda Kabupaten Sumedang

Pada kesempatan kali ini, admin ingin menceritakan sebuah tempat yang terletak di Kelurahan Kota Kaler Kecamatan Sumedang Utara, Pacuan Kuda. Dulu admin sempat berfikir bahwa "Pacuan Kuda" ini hanya nama tempat saja, bukan benar-benar arena untuk bertanding pacuan kuda, itu karena sedari kecil admin belum pernah melihat kuda bertanding di tempat ini.

Admin tertarik untuk menulis tentang Pacuan Kuda ini karena sering mendengar bahwa dulu tempat ini menjadi tempat favorit bagi warga Sumedang, salah satu yang sering menceritakan tentang "wah" nya Pacuan Kuda ini dijaman dulu adalah orang tua admin sendiri, admin berfikir "Masa iya tempat yang di musim kemarau tampak gersang seperti ini, dulu bisa menjadi tempat favorit ??". Admin berfikir demikian karena memang belum pernah melihat riuhnya penonton melihat pertandingan balap kuda di tempat ini.

Yang admin lihat, seringnya tempat ini dipakai oleh mereka yang sedang belajar mengendarai sepeda motor seperti terlihat pada gambar di atas. Pagar yang mengelilingi Pacuan Kuda ini pun banyak mengalami kerusakan di sana-sini, pagar tidak mengelilingi arena secara sempurna. Tidak ada semacam tempat khusus untuk penonton pula. Malah pada hari-hari tertentu, di tempat ini diadakan pasar malam atau pasar kaget yang ditempatkan memanjang sesuai jalur pacuan, sampah yang berserakan menjadi pemandangan biasa setelah itu.

Arena Pacuan Kuda Kabupaten Sumedang

Melihat itu semua, pantas jika generasi muda Sumedang tidak mengira, ternyata Pacuan Kuda ini dulunya memang menjadi tempat favorit di Sumedang. Tempat ini menjadi tempat favorit, salah satunya adalah karena dulu pada masa-masa awal kemerdekaan sarana hiburan masih sangat sulit untuk ditemui, konon tontonan yang melibatkan khalayak ramai seperti olahraga pacuan kuda inilah yang digemari oleh masyarakat Sumedang kala itu. Penontonnya pun bukan hanya dari daerah sekitaran Sumedang kota saja, melainkan dari seluruh pelosok Kabupaten Sumedang, mereka datang ketempat ini beramai-ramai, berkelompok, dengan cara berjalan kaki dari daerah masing-masing.

Jarak yang harus ditempuh oleh para penikmat olahraga pacuan kuda ini pun tidak main-main, menurut cerita mereka bisa berjalan seharian bahkan sampai satu hari satu malam menuju lokasi balap pacuan kuda ini, mereka membawa perbekalan untuk disantap selama di perjalanan dan tentunya juga untuk di lokasi ketika menonton lomba pacuan kuda.

Dari cerita-cerita yang admin dengar, nampaknya masyarakat kala itu memang menikmati hal tersebut, dimana kebersamaan dalam kesederhanaan menjadi penawar rasa lelah selama di perjalanan, dan perasaan lelah itu juga langsung terobati ketika melihat olahraga pacuan kuda yang mereka gemari..."matak waas" (bikin kangen) kalau kata orang tua admin bilang.

Pagi Hari di Pacuan Kuda

Mungkin diantara sobat ada yang bertanya-tanya kenapa kok masyarakat Sumedang kala itu sangat menggemari ketangkasan pacuan kuda ini?? ternyata hal tersebut bukan tanpa sebab, ada sejarahnya sehingga adu ketangkasan pacuan kuda ini seolah mempunyai magnet yang luar biasa dalam menarik masyarakat Sumedang kala itu untuk menggemarinya. Hal itu tak lain dan tak bukan adalah pengaruh dari Pangeran Aria Soeria Atmadja/Pangeran Mekkah. Seperti banyak kita ketahui, jaman dulu yang namanya pemimpin itu benar-benar disegani, segala tindak-tanduknya digugu dan ditiru, wejangannya seolah menjadi wasiat yang harus dilaksanakan, atau sederhananya, ia mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam hal apapun di tengah-tengah masyarakat.

Rupanya pengaruh Pangeran Aria Soeria Atmadja pada masyarakat Sumedang ini bukan hanya dalam hal pemerintahan saja, namun hobinya pun sampai diikuti oleh masyarakat Sumedang kala itu. Konon beliau sangat menyukai beternak kuda dan selalu memikirkan bagaimana caranya untuk bisa melahirkan bibit kuda unggulan dari Sumedang, beberapa sumber mengatakan bahwa salah satu cara yang ditempuh adalah dengan cara mendatangkan bibit kuda unggulan dari Sumbawa. Nah, untuk melatih kuda-kuda unggulan yang telah dihasilkan itulah Pacuan Kuda ini dibuat.

Dilihat dari sejarahnya, mungkin bisa dikatakan bahwa Pacuan Kuda Kabupaten Sumedang ini merupakan warisan dari generasi pemimpin terdahulu dalam usaha membudayakan olahraga atau ketangkasan pacuan kuda. Memang secara fisik sama sekali tidak memperlihatkan bahwa tempat ini merupakan bangunan atau areal warisan sejarah seperti misalnya Museum Prabu Geusan Ulun atau Gunung Kunci, namun tentunya hal tersebut bukan alasan untuk tidak menjaga serta melestarikannya.

Pagi Hari di Pacuan Kuda

Terobosan-terobosan serta keuletan dari Pangeran Aria Soeria Atmadja ini memang selayaknya kita teladani, karena selain berhasil mengembangbiakan ternak kuda unggulan di Sumedang kala itu, kecintaannya pada alam pun menghasilkan prestasi-prestasi lain melalui pemikirannya, seperti sistem sawah terasering yang pertama kali dicetuskan olehnya, dan beliau pun berhasil mendirikan sekolah pertanian pertama di tanah air yang sekarang dikenal dengan UNWIM atau Universitas Winaya Mukti, sekolah tersebut dulunya bernama APT (Akademi Pertanian Tanjungsari), dan sekarang telah berubah nama menjadi Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti (UNWIM) di Tanjungsari.

Karena prestasinya tersebut beliau tidak hanya dikagumi oleh masyarakat Sumedang pada khususnya namun juga disegani oleh bangsa lain, sampai-sampai beliau diberikan penghargaan oleh Pemerintah Belanda dengan cara membangun Monumen Lingga di tengah-tengah alun-alun Sumedang untuk memperingati serta mengapresiasi jasa-jasa beliau dalam keberhasilannya membangun Sumedang. Monumen tersebut diresmikan oleh Gubernur Jendral Dir Fock. Melihat dari cerita sejarahnya, sangat disayangkan jika Pacuan Kuda ini dibiarkan begitu saja dan tidak dikembalikan pada fungsi awalnya, bukan begitu?

Pagi Hari di Pacuan Kuda

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dengan judul "Pacuan Kuda Dalam Cerita" dengan link sebagai berikut ; "www.wewengkonsumedang.com/2014/02/pacuan-kuda-dalam-cerita.html"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar