Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Assalamualaikum. Selamat datang di web Insomnia Notes, semoga kesehatan dan kelimpahan rezeki selalu tercurah limpah kepada para pembaca semua. Melalui ini, saya Jeryanuar selaku admin mengajak para pembaca untuk mensuport akun Youtube admin dengan menonton dan subscribe di link berikut ini : Vlog Tahu Sumedang. Hanya dengan menonton dan subscribe, sahabat sudah membantu channel tersebut untuk bisa terus berkembang. Terima Kasih.

×

Cerita Duka Di Masjid Pusaka, Masjid Besar Tegalkalong


Masjid Besar Tegalkalong

Setelah bercerita sedikit tentang Tradisi Nyuci Pusaka di Sumedang, pada kesempatan kali ini admin ingin bercerita hal lain yang berkaitan juga dengan istilah "pusaka" di Sumedang, namun kali ini yang disebut "pusaka" disini bukanlah sebuah barang melainkan bangunan yaitu sebuah Masjid, lebih tepatnya Masjid tersebut adalah Masjid Besar Tegalkalong di Sumedang Utara.

Masjid Pusaka, entah darimana istilah tersebut berasal karena dari beberapa sumber dikatakan bahwa masjid ini adalah masjid pusaka, awalnya admin berpikir entah apa maksudnya kata-kata tersebut karena admin lihat dari segi bentuk masjid ini biasa saja dan sama saja seperti masjid-masjid lainnya, tak ada yang istimewa dari bentuknya, admin pun tak melihat yang istimewa seperti barang atau artefak bersejarah dan berharga lain di dalamnya ketika saya berkesempatan untuk singgah di Masjid ini.

Rupa-rupanya, ternyata Masjid yang dibangun oleh Raden Suriadiwangsa pada sekitar tahun 1600-an inilah yang benar-benar menjadi pusakanya, admin kurang tahu kenapa disebut demikian, mungkin karena Masjid yang pada ujung atapnya terdapat mustaka sama seperti dengan Masjid Agung Sumedang ini menyimpan sejarah yang begitu mendalam bagi masyarakat Sumedang. Atau mungkin bisa juga maksud "pusaka" disini adalah "istimewa", karena konon Masjid ini adalah Masjid pertama yang didirikan di Sumedang, yang berarti usianya lebih tua dari Masjid Agung Sumedang yang telah dilindungi oleh undang-undang kepurbakalaan.

Sebelum coba sedikit menceritakan sejarah kelam Sumedang di Masjid Besar Tegalkalong ini, admin hanya ingin menyampaikan bahwa kita benar-benar harus banyak bersyukur bahwa kita sekarang telah dipersatukan kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI, dengan dipersatukannya berbagai daerah kedalam NKRI tersebut membuat kita bisa bersatu padu, gesekan antar daerah atau suku bangsa pun bisa diminimalisir sekecil mungkin.

Ya, admin katakan demikian karena akan menceritakan sebuah pertempuran atau gesekan yang terjadi antar dua kerajaan di masa lalu, jika dulu admin pernah menceritakan pertempuran antara Sumedang Larang dengan Kesultanan Cirebon di postingan berjudul Kisah Hanjuang di Kutamaya, maka kali ini admin akan menceritakan sebuah pertempuran atau gesekan antara Sumedang dengan Kesultanan Banten dimasa lampau.

Pada masa jayanya, Sumedang Larang konon menguasai hampir seluruh pulau jawa bagian barat (Jawa Barat) kecuali Cirebon, Banten, dan daerah Sunda Kelapa (Jakarta, VOC). Karena posisinya yang berada di tengah-tengah dan diapit oleh kekuatan-kekuatan besar tersebut, tak jarang terjadi gesekan antara Sumedang dengan daerah-daerah tersebut bahkan ketika Sumedang sudah takluk dan jatuh ke tangan Kesultanan Mataram, seperti kejadian atau sejarah di Masjid Besar Tegalkalong yang akan admin ceritakan ini.

Beranda Masjid Besar Tegalkalong 

Dulunya, daerah Tegalkalong ini merupakan ibukota Sumedang setelah dipindahkan dari Dayeuh Luhur pada sekitar tahun 1600-an, yang secara otomatis roda pemerintahan dan pembesar-pembesar Sumedang pun kala itu banyak terfokus di daerah ini. Pendopo di kantor kecamatan Sumedang Utara yang ada dekat mesjid ini pun konon merupakan peninggalan pada masa itu.

Admin rangkum dari berbagai sumber, dikisahkan pada sekitar tahun 1678-an tepatnya pada bulan Oktober Sumedang diserang keduakalinya oleh Kesultanan Banten setelah penyerangan yang pertama menemui kegagalan pada maret 1678. Pada serangan yang kedua tersebut, Pasukan Banten menambah kekuatannya untuk menaklukkan Sumedang dengan menggandeng kekuatan dari gabungan kekuatan pasukan Bali dan Bugis, pada serangan sebelumnya pasukan ini konon berhasil merebut daerah-daerah yang dikuasai Sumedang yaitu Pantai Utara, Ciparigi, Ciasem, dan Pamanukan.

Saat-saat itu disebut sebagai masa kelam bagi Sumedang karena pada masa itu banyak jatuh korban dari pihak Sumedang dalam pertempuran. Diceritakan bahwa pasukan gabungan Banten berhasil mengepung Sumedang pada awal bulan Ramadhan, dan tepat pada hari raya Idul Fitri, tepatnya ketika Pangeran Panembahan beserta rakyat Sumedang sedang melaksanakan shalat sunnah Ied tiba-tiba tanpa diduga-duga pasukan gabungan Banten yang dipimpin oleh Cilikwadara dan Cakrayuda menyerang Sumedang dengan kekuatan penuh.
Halaman Masjid Besar Tegalkalong

Karena saat itu Sumedang tidak siap untuk menghadapi gempuran, jatuhlah banyak korban termasuk kerabat Pangeran Panembahan, Pangeran Panembahan sendiri saat itu berhasil meloloskan diri dan mencari perlindungan ke arah Indramayu. Baru setelah konflik dengan Kesultanan Banten ini mereda, Pangeran Panembahan memindahkan pusat pemerintahan Sumedang dari Tegalkalong ke Regolwetan atau pusat kota Sumedang yang sekarang.

Berdasar dari kejadian tersebut, masyarakat Sumedang konservatif atau mereka yang memegang teguh adat secara turun temurun tidak berkenan bupatinya shalat Ied di Sumedang jika Idul Fitri jatuh pada hari Jumat, ia sama sekali sangat tidak dianjurkan untuk Shalat Ied di Sumedang ketika hari raya Idul Fitri jatuh di hari Jumat, ini jadi semacam trauma sejarah.Namun tentunya hal tersebut sekarang sudah tidak berlaku lagi bagi masyarakat Sumedang kebanyakan, karena selain kejadian memilukan tersebut sudah berlalu, zaman terus berkembang, terus mengingat-ingat hal tersebut juga dianggap bisa memunculkan kembali rasa sakit hati padahal sekarang kita sudah dipersatukan kedalam NKRI yang berarti satu dengan lainnya adalah saudara dan tak boleh bermusuhan demi persatuan dan kesatuan.

Mungkin sekian garis besar yang bisa admin rangkum dari cerita duka di Masjid Besar Tegalkalong ini, mohon maaf jika banyak kekurangan disana sini dalam ceritanya, dan mohon kritik saran serta koreksinya jika terdapat kesalahan dalam cerita sejarah tersebut. Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari cerita diatas dimana pertikaian tidak akan menghasilkan apapun kecuali kerugian dan kesengsaraan.

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dengan judul "Cerita Duka Di Masjid Pusaka, Masjid Besar Tegalkalong" dengan link sebagai berikut ; "www.wewengkonsumedang.com/2014/02/cerita-duka-di-masjid-pusaka-masjid.html"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar