Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Assalamualaikum. Selamat datang di web Insomnia Notes, semoga kesehatan dan kelimpahan rezeki selalu tercurah limpah kepada para pembaca semua. Melalui ini, saya Jeryanuar selaku admin mengajak para pembaca untuk mensuport akun Youtube admin dengan menonton dan subscribe di link berikut ini : Vlog Tahu Sumedang. Hanya dengan menonton dan subscribe, sahabat sudah membantu channel tersebut untuk bisa terus berkembang. Terima Kasih.

×

Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat


Gunung Tangkuban Parahu Dilihat Dari Atas

Gunung Tangkuban Parahu, Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dengan Kabupaten Subang dan merupakan daerah wisata yang selalu ramai didatangi pengunjung, hanya sayang karena statusnya masih aktif, pada waktu-waktu tertentu gunung ini dilarang untuk dikunjungi demi keselamatan pengunjung.

Alhamdulillah berkesempatan melihat Gunung Tangkuban Parahu dari sudut yang berbeda dari yang biasa terlihat, yaitu dari arah atas, bagaimana? apakah mirip dengn perahu yang nangkub (terbalik) ?? nama Tangkuban Parahu memang diambil dari bentuk gunung ini yang seperti parahu nangkub (perahu terbalik). Bentuknya yang seperti perahu terbalik itu ada cerita atau legendanya, yaitu Legenda Sangkuriang, sobat semua juga tentunya sudah tahu tentang cerita Sangkuriang ini, berikut akan admin coba ceritakan kembali untuk sobat semua...kurang lebih begini ceritanya :

Legenda Sangkuriang

Kisah Sangkuriang ini dimulai dari seorang putri raja di Jawa Barat yang mempunyai anak sangat gemar berburu. Nama putri raja tersebut adalah Dayang Sumbi dan anaknya bernama Sangkuriang, Sangkuriang memiliki seekor anjing peliharaan bernama Tumang yang selalu menemaninya berburu, tapi Sangkuriang tidak tahu bahwa Tumang sebenarnya adalah ayahnya yang juga titisan dewa.

Suatu hari ketika Sangkuriang kecil pergi berburu, Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan...akibatnya ia marah dan mengusir Tumang hingga tak kembali lagi (di beberapa sumber diceritakan pula bahwa Tumang terbunuh oleh Sangkuriang). Setelah Sangkuriang pulang dan menceritakan hal itu kepada ibunya, Dayang Sumbi menjadi sangat sedih sekaligus marah, akibat kemarahannya itu ia tidak sengaja memukul kepala sangkuriang dengan sebuah benda (kalau tidak salah benda yang dipakai memukul adalah centong nasi).

Dengan kepala yang terluka dan sedih, Sangkuriang merasa kecewa dan pergi meninggalkan ibunya...ia pergi mengembara dan belajar ilmu bela diri atau kanuragan sehingga ia tumbuh menjadi pemuda yang sangat sakti, bahkan saking saktinya ia bisa berinteraksi dengan makhluk gaib dan menjadikannya anak buah. Di tempat lain, Dayang Sumbi yang merasa sedih, kecewa, sekaligus menyesal menjadi rajin bertapa untuk menenangkan dirinya, sehingga dia dianugrahi paras awet muda oleh para dewa.

Singkat cerita, Sangkuriang yang sudah tumbuh dewasa pulang kembali ke kampung halamannya, ia menjumpai pemandangan yang sudah jauh berubah semenjak dia meninggalkan tempat itu dulu. Di tempat itupun ia menjumpai seorang gadis cantik jelita yang tak lain adalah Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri. Sangkuriang pun terpesona dengan kecantikannya dan langsung melamarnya, dan dayang Sumbi pun menerimanya karena pemuda yang melamarnya itu sangat tampan.

Mulanya dayang sumbi tidak tahu bahwa pemuda yang melamarnya itu adalah anaknya, ia baru mengetahui hal tersebut setelah Sangkuriang memintanya membetulkan ikat kepalanya ketika hendak berburu. Pada waktu membetulkan ikat kepala tersebut ia melihat sebuah bekas luka yang sama persis ditempat dimana ia memukul kepala anaknya dulu...ia kaget dan terperanjat, dan setelah ia memperhatikan wajah Sangkuriang kembali dengan seksama, ia akhirnya tersadar bahwa pemuda tersebut memang sangat mirip dengan anaknya, dan ia yakin pemuda itu adalah anaknya.

Seketika itu juga ia mencari cara agar pinangan yang sudah direncanakan gagal dan tidak terlaksana. Ia meminta sangkuriang mengerjakan suatu hal yang mustahil untuk dilakukan yaitu membendung sungai Citarum dan membuat perahu yang sangat besar untuk menyebrangi sungai itu, waktu untuk mengerjakan itu semua hanya satu malam saja, batas waktunya hingga terbit fajar tanda pagi telah datang.

Sangkuriang menyanggupi permintaan Dayang Sumbi tersebut, dengan kesaktiannya, Sangkuriang meminta bantuan dan mengerahkan makhluk-makhluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya. Di tempat lain Dayang Sumbi merasa waswas dan takut Sangkuriang bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan memenuhi syarat darinya, diam-diam Dayang Sumbi mengawasi pekerjaan Sangkuriang dan ketika pekerjaan tersebut akan selesai Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar dan membentangjkan kain sutra merah di sepanjang timur kota. Melihat warna kemerahan di arah timur kota, makhluk-makhluk gaib anak buah Sangkuriang langsung lari tunggang langgang karena mengira hari sudah pagi, begitupun dengan Sangkuriang, dia mengira bahwa hari sudah beranjak pagi dan terbit fajar.

Ia sangat marah karena dengan bantuan makhluk gaib pun ternyata ia tidak mampu memenuhi syarat yang diajukan oleh Dayang Sumbi. Dengan kesaktiannya ia melampiaskan amarahnya dengan menjebol bendungan yang dibuatnya sendiri hingga terjadi banjir besar yang merendam seluruh kota dan menendang perahu yang dibuatnya hingga terlempar jauh dan terbalik, lambat laun seiring berjalannya waktu...perahu yang terbalik itu tertutupi debu, tanah, batu, dan lainnya hingga menjadi sebuah gunung, dan pada akhirnya gunung tersebut dinamai "Gunung Tangkuban Parahu,".

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dengan judul "Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2013/11/tangkuban-parahu-kabupaten-bandung.html"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar