Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Mata Air Cikandung, Mengambil Hikmah Dari Luasnya Danau


Mata Air Cikandung

Sewaktu masih kecil, mata air cikandung ini dulu merupakan salah satu mata air yang sering admin kunjungi untuk berenang, pemandangannnya cukup indah, airnya jernih, bersih dan ngaguludag (deras), saking jernihnya ikan yang berenang di dasar pasti terlihat, jadi teringat dulu kalau main kesini admin pasti berburu ikan tampele (sejenis cupang liar).

Layaknya mata air dipegunungan, airnya sangat nyecep (dingin sekali), tapi sayangnya ketika admin berkunjung kembali kesini dan mengambil gambar ini, musimnya sedang musim kemarau jadi debit airnya kecil dan airnya terlihat tenang seperti yang terlihat di atas, dan lagipula, walaupun tetap segar dan rimbun, keasrian di daerah ini nampaknya sudah tidak seperti dulu lagi.

Seperti halnya di Gunung Kunci, banyaknya pepohonan besar di tempat ini membuat suasana di sekitar mata air cikandung sangat sejuk, dan karena hal itulah pada bulan Ramadhan tempat ini biasanya juga menjadi salah satu tempat favorit anak sekolah untuk ngabuburit.

Walau tidak begitu besar dan memang bukan tempat tujuan wisata, (dulu) mata air cikandung ini biasanya selalu ramai dikunjungi bahkan oleh pengunjung dari luar daerah cikandung sendiri, dan bagi admin pribadi mata air ini meninggalkan kesan yang cukup mendalam diwaktu kecil.

Sekarang kita simpan dulu curhatan admin tentang mata air cikandung ini. Berbicara tentang mata air, ada cerita renungan yang ada sangkut pautnya juga dengan mata air, kalau tidak salah dulu admin membaca cerita ini di salah satu postingan di beranda facebook. Kurang lebih begini ceritanya, mudah-mudahan bermanfaat.

"Jangan Jadi Gelas, Jadilah Danau"

Pada suatu waktu, seorang Sufi mendatangi seorang muridnya karena dia melihat wajah muridnya tersebut belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung anakku? bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? kemana perginya wajah bersyukurmu?” sang Sufi bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya rasanya selalu penuh dengan masalah, rasanya sulit bagi saya untuk tersenyum...masalah datang silih berganti seperti tak ada habisnya.” jawab si murid.

Sang Guru tesenyum mendengar perkataan muridnya tersebut dan berkata "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam dan segeralah bawalah kemari, biar kuperbaiki suasana hatimu itu".

Sang murid pun beranjak dari tempatnya berdiam diri, pelan dan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, ia pergi lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta oleh gurunya.

“Sekarang coba ambil segenggam garam, dan masukan kedalam air yang berada di gelas itu, lalu aduklah” kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit" timpalnya lagi. Sang murid pun melakukannya, dan terlihat rona wajahnya yang mulai meringis karena meminum air yang sangat asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “sangat asin Guru, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru pun tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru kemudian membawa muridnya ke danau yang berada di dekat tempat mereka berada. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau...dan aduklah ditempat dimana kau tebar garam tersebut menggunakan tanganmu.”

Sang murid kemudian menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau tersebut lalu perlahan menggerakan tangannya memutar seolah sedang melarutkan garam tersebut di danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum juga hilang, ingin rasanya ia meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi ia tak berani melakukannya karena menghormati gurunya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya untuk mengambil air danau, kemudian membawanya ke mulutnya lalu meneguknya.

Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru langsung bertanya kepadanya, “bagaimana rasanya?” “segar, segar sekali guru” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. "Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber mata air di atas sana dan airnya mengalir menjadi sungai kecil ke arah bawah" kata Sang Guru.

Air danau yang dingin dan sejuk tersebut juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulut sang murid. “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?” tanya sang Guru, “tidak sama sekali Guru” kata sang murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak..." kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Percayalah segala masalah dalam hidup kita ini ibarat segenggam garam, tidak kurang dan juga tidak lebih...hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ditakar oleh Allah, sesuai untuk dirimu, dan Allah tidak mungkin salah. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.“Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya “qalbu” (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita dan membuat kita berputus asa, berhentilah jadi gelas....jadikan qalbu dalam dadamu itu menjadi sebesar danau" tambah Sang Guru lagi.

Pemandangan Langit Sekitar Mata Air Cikandung

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dengan judul "Mata Air Cikandung, Mengambil Hikmah Dari Luasnya Danau" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2013/08/mata-air-cikandung.html"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar