Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Assalamualaikum. Selamat datang di web Insomnia Notes, semoga kesehatan dan kelimpahan rezeki selalu tercurah limpah kepada para pembaca semua. Melalui ini, saya Jeryanuar selaku admin mengajak para pembaca untuk mensuport akun Youtube admin dengan menonton dan subscribe di link berikut ini : Vlog Tahu Sumedang. Hanya dengan menonton dan subscribe, sahabat sudah membantu channel tersebut untuk bisa terus berkembang. Terima Kasih.

×

Hujan Deras, dan Kelemahan Malaikat Penghitung Setiap Tetesnya


Hujan Deras di Bundaran Alamsari

Akhir-akhir ini, atau tepatnya beberapa bulan terakhir Sumedang seringkali tiba-tiba diguyur hujan yang sangat lebat, seperti ketika admin melintas di Bundaran Alamsari ini, Bundaran Alamsari yang ditengah-tengahnya terdapat Monumen Adipura ini sendiri merupakan salah satu pintu masuk menuju Sumedang kota, berhubung Sumedang adalah kota kecil, jika sobat melewatii kota Sumedang dari arah manapun entah mulai masuk ataupun akan meninggalkan kota Sumedang pasti melewati bundaran ini.

Bundaran ini menjadi perempatan menuju ke beberapa tempat, seperti tempat admin mengambil foto atau gambar ini adalah arah menuju Sumedang kota, ke arah kiri (dari foto ini) adalah menuju kota Bandung melewati jalur By Pass jalan Prabu Gajah Agung, arah lurus (dari foto ini) adalah menuju Kabupaten Majalengka, Cirebon, dan seterusnya, ke arah kanan (dari foto ini) adalah ke arah Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan seterusnya

Kembali lagi, tentang hujan, sebenarnya admin sedikit bingung dengan kondisi cuaca sekarang ini, musim kemarau dan musim hujan seolah-olah sudah tidak jelas lagi batasan waktunya. Sewaktu kecil diajari bahwa secara awam kita juga bisa mengetahui musim apa yang sedang berlangsung berdasarkan nama bulan, misal nama bulan yang ada "ber"nya (september, oktober, nopember, desember) itu adalah musim hujan, dan mulai bulan ma"ret"berarti hujannya mulai se"ret", lalu bulan-bulan selanjutnya adalah musim kemarau sampai kembali pada bulan yang ada "ber" nya lagi. Tapi sekarang, nampaknya musim hujan dan musim kemarau sudah tidak melihat nama bulan lagi, mungkin benar alam kita sudah mulai rusak, dan sekarang seringnya cuaca tidak jelas, mendung, haleungheum.

Berkaitan dengan hujan ini, ada sebuah cerita renungan untuk kita semua, apalagi sekarang masih dalam suasana Ramadhan dan sangat tepat bagi kita untuk mengaji dan mengkaji berbagai fenomena yang ada di alam ini serta mengambil pelajaran darinya. Cerita ini adalah tentang malaikat penghitung tetesan air hujan, malaikat yang sangat hebat yang bahkan satu tetes air hujan pun tak luput dari pengawasannya, tapi malaikat ini punya sebuah kekurangan, apakah kekurangannya tersebut ?? berikut kisahnya :

Diriwayatkan (Al-Mustadrah Syeikh An-Nuri, jilid 5: 355, hadis ke 72) bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu. Aku bertanya kepada Jibril as, pendampingku,

"Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?"

Jibril berkata, "Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi."

Rasulullah SAW bertanya kepada malaikat tadi,

"Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as? (sejak Nabi Adam as diciptakan)."

Malaikat itupun berkata,

"Wahai Rasulullah SAW, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetesan yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia."

Mendengar uraian malaikat tadi, Rasulullah sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan.

Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau

"Wahai Rasulullah SAW, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan."

Rasulallah SAW pun bertanya, "Apa kekurangan dan kelemahan kamu?"

Malaikat itupun menjawab "Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulullah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu."

Begitulah kekurangan malaikat tersebut, ia bahkan tidak bisa menghitung banyaknya limpahan pahala yang diberikan oleh Allah kepada mereka yang bershalawat atas Nabi Muhammad SAW. Itu artinya sebutan beribu berjuta bermilyar-milyar pun tak akan cukup untuk menggambarkan pahala dari Allah kepada mereka yang mau bershalawat atas Nabi Muhammad SAW (dengan ilmu dan ikhlas tentunya), sungguh sangat merugi kita jika tidak melaksanakannya, Subhanallah, hanya Allah lah Sang Maha Pemurah, Maha Pemberi. Mari sama-sama bershalawat, dan kita niatkan untuk rajin bershalawat...“Allahuma shalli ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wa shahbihi wa sallim".

Bundaran Alamsari Sumedang

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dengan judul "Hujan Deras, dan Kelemahan Malaikat Penghitung Setiap Tetesnya" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2013/07/hujan-deras.html

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar