Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Berbuat khilaf adalah sifat. Meminta maaf adalah kewajiban. Dan kembalinya Fitrah adalah tujuan. Saya, admin blog Insomnia Notes MEMOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN. Minal Aidin Wal Faidzin Taqabalallahu minnaa wa minkum. Selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1440 H.

×

Punggawa Panurung Keraton Sumedang Larang

Punggawa Panurung di Gedung Negara Sumedang
Pict dari tribunjabar.id

Punggawa Panurung Keraton Sumedang Larang - Sejak awal Januari tahun 2019 ini, jika sobat berkunjung ke Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang maka sobat akan melihat atau bertemu dengan para Punggawa Panurung. Apa itu Punggawa Panurung? Punggawa Panurung adalah sebuah gelar bagi seseorang yang menjadi prajurit pengawal di Keraton Sumedang Larang, dan juga kerap ditempatkan di beberapa tempat bersejarah di Sumedang.

Keberadaan Punggawa Panurung di beberapa tempat di Sumedang ini, merupakan salah satu usaha atau pengejawantahan dan kontribusi bagi terwujudnya Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda. Seperti dikutip dari Tribun Jabar Online, Panglima Wirayudha Keraton Sumedang Larang, Muhamad Andi Lesmana mengatakan bahwa keberadaan Punggawa Panurung di Gedung Negara, adalah bentuk kontribusi memperkuat Sumedang sebagai puseur budaya Sunda. Dimana selain ditempatkan di Gedung Negara, Punggawa Panurung juga ditempatkan di Bale Agung Srimanganti, Keraton Sumedang Larang.

Lalu seperti apa Punggawa Paurung itu? Bagaimana gambarannya? Punggawa Panurung ini, adalah berupa seorang yang berdiri mengenakan seragam merah kuning, bercelana putih, serta bertopi. Sedangkan yang satunya lagi, mengenakan kaus hitam, celana pangsi, dan ikat kepala biru. Kedua orang Punggawa Panurung itu berdiri tegak tepat di depan halaman Gedung Negara sambil memegang senjata menyerupai tombak, ia menatap tajam lurus ke depan menyerupai pengawal zaman dahulu.

Punggawa Panurung di Halaman Gedung Negara ini berjumlah enam orang, dimana seorang Punggawa Panurung akan berjaga selama 30 menit, lalu bergantian dengan penjaga lainnya. Nah, menjadi seorang Punggawa Panurung ini harus benar-benar disiplin, karena saat berjaga selama waktu 30 menit itu, mereka tidak diperbolehkan melakukan aktivitas lainnya selain memantau kondisi serta situasi Gedung Negara.

Ya, selama 30 menit berdiri itu, Punggawa Panurung harus fokus menjaga situasi di halaman Gedung Negara dan tidak boleh melakukan gerakan lain. Harus tetap ajeg dan berwibawa! Gatal? Pegal? Kesemutan? Semua itu harus ditahan selam 30 menit karena mereka tidak boleh melakukan gerakan selain yang telah diperintahkan, oleh Keraton Sumedang Larang.

Punggawa Panurung ini memang terinspirasi dari pengawal kerajaan zaman dahulu. Dan sebagai kabupaten yang menyandang gelar sebagai Puseur Budaya Sunda, dimana Sumedang sudah dilegitimasi sebagai pewaris terakhir kerajaan Sunda Padjadjaran, maka Sumedang dirasa pantas untuk memiliki Punggawa Panurung, punggawa pengawal kerajaan. Karena dengan keberadaan Punggawa Panurung ini, simbol legitimasi estafet kepemimpinan dari Padjadjaran akan terjaga. Ia menjadi simbol lain setelah Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, yang sudah terlebih dahulu eksis sebagai tinggalan sejarah, di Kabupaten Sumedang.

*artikel disadur dari tribunjabar.id

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar