Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Sirah Cilembang, Danau Biru di Desa Hariang

Sirah Cilembang Mulai Ramai Didatangi Pengunjung. Image By : instagram @danissasha

Beberapa hari belakangan ini, Sumedang sedang dihebohkan oleh keberadaan tempat wisata alternatif yang bisa dibilang lain daripada yang lain. Sirah (mata air) Cilembang, adalah tempat yang dimaksud. Sirah Cilembang disebut lain daripada yang lain karena memiliki keunikan tersendiri, keunikan yang dimaksud adalah airnya berwarna biru, biru tosca tepatnya.

Karena keunikannya itulah, mata air yang berada di Dusun Curug, Desa Hariang, Kecamatan Buahdua ini sekarang begitu ramai dikunjungi, admin pribadi melihat pengunjung datang terus menerus, silih berganti melihat keunikan warna air di mata air itu.

Menurut pengakuan salah seorang narasumber, Rijal, pengunjung yang datang bisa mencapai ratusan orang setiap harinya. Dikatakannya, pengunjung tidak pernah berhenti berdatangan dari pagi hingga petang. Pemuda yang juga bertindak sebagai salah satu penjaga di tempat wisata itu mengatakan, sudah sekitar satu mingguan tempat itu menjadi ramai dan dikunjungi banyak orang. Itu terjadi setelah sebelumnya ada seorang warga yang mengupload foto mata air itu ke jejaring sosial facebook.

“Dulunya mah tidak seramai ini, justru malah sebaliknya, sangat sepi dan agak angker,” ujar Rijal pada admin WS.

Rijal mengatakan, mata air yang di luar Desa Hariang tenar dengan sebutan danau biru atau cai biru itu ramai dikunjungi pengunjung karena didorong rasa penasaran calon pengunjung yang bersangkutan. Bahkan menurut salah seorang pengunjung, Uday, tempat itu sekarang mendadak terkenal sampai ke Bandung. Banyak yang penasaran ingin datang ke tempat itu.

“Kemarin waktu duduk-duduk di sekitar rumah, ada seorang pengendara mobil yang bertanya di mana itu Sirah Cilembang. Katanya dia orang Bandung dan tau tempat itu dari media sosial. Mereka penasaran dengan airnya yang berwarna biru.” Jelas Uday.

Sirah Cilembang Sebelum Ramai Pengunjung. Image By : instagram @egino_agustiano

Lalu darimana warna biru pada air itu berasal? Rijal, sang penjaga tempat wisata itu menuturkan, warna biru itu tidak berasal dari mana-mana, karena memang sebetulnya airnya tidak berwarna biru. Jika diambil memakai ember atau lainnya, airnya akan terlihat jernih seperti biasa, tidak ada warna biru pada air itu.

Ada kemungkinan, warna biru yang terlihat pada permukaan air itu muncul karena beberapa faktor, diantaranya saja airnya yang sangat jernih dengan pasir di dasar kolamnya, ditambah kedalamannya yang mencapai kurang lebih tiga meter.

“Jadi ketika mendapat sinar matahari dari sudut yang pas, itu akan memunculkan warna biru,” jelas Rijal.

Karenanya, meskipun air di tempat itu seolah memiliki warna, airnya tetap aman seperti air dari mata air-mata air lainnya, itu terbukti dengan banyaknya ikan di kolam yang terbentuk dari mata air tersebut. Ikan yang hidup di tempat itu antara lain adalah sengol, nilem, beunteur (wader), bahkan sampai kura-kura juga ada.

Bukti lain bahwa air dari tempat itu aman untuk dikonsumsi dan dipergunakan untuk keperluan sehari-hari adalah, air dari tempat itu dimanfaatkan oleh Pamsimas sebagai salah satu sumber air baku, airnya didistribusikan ke rumah-rumah penduduk di sekitarnya, bahkan sampai ke desa tetangga. Karena itulah, terdapat larangan tidak boleh berenang di kolam air yang terbentuk dari mata air itu, takutnya air yang dikonsumsi oleh penduduk menjadi tercemar.

Dilarang Berenang Di Sirah Cilembang. Image By : instagram welcome_sumedang

Tapi bagi yang keukeuh ingin berenang, ada kolam lain di sekitaran Sirah Cilembang itu yang bisa dipakai untuk berenang, kolam air yang boleh dipergunakan untuk berenang itu seringkali disebut dengan Beuteung Cilembang.

Tidak dipungut biaya untuk memasuki tempat wisata ini, alias gratis !! hanya saja semenjak ramai dikunjungi, kawasan ini langsung dikelola oleh Karang Taruna setempat dengan menerapkan retribusi parkir kendaraan. Dengan biaya parkir sebesar Rp. 2000, pendapatan yang dikantongi dan selanjutnya akan dikembalikan untuk membenahi kawasan tersebut setiap harinya bisa mencapai Rp.700.000, sedangkan para pedagang dadakan yang bermunculan di tempat itu bisa mengantongi omset sebesar Rp.300.000 per harinya.

Melihat animo pengunjung yang berdatangan selama seminggu ini, tentu mata air ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi objek wisata andalan Desa Hariang. Karena itu, pengunjung berharap akses menuju tempat ini bisa lebih ditata, karena batuan-batuan tajam juga curam masih terlihat menyembul di sana-sini, jalan yang licin jika terkena air juga berpotensi membuat pengunjung celaka jika tidak hati-hati.

“Apalagi ketika pengunjung sedang ramai-ramainya seperti ini, kita para penjaga suka takut, hemar-hemir, takutnya ada yang terjatuh atau bagaimana. Tapi Alhamdulillah selama ini aman-aman saja,” ujarnya lagi.

Rijal menambahkan, berhubung biasanya memasuki jam empat sore tempat itu akan tampak agak mencekam, selaku penjaga dirinya juga berharap kedepan di tempat itu bisa dipasang lampu penerangan, itu karena, sampai jam lima sore pun biasanya masih saja ada yang berkunjung ke tempat itu.

Sebetulnya, menurut Rijal, ada poe larangan (hari larangan) yang diberlakukan sesepuh desa jaman dulu untuk mata air itu, yang dimaksudkan agar penduduk atau siapapun jangan mengunjungi mata air itu pada hari-hari tertentu, yaitu hari Selasa dan hari Jumat. Tapi berhubung pengunjung selalu membludak, mau tidak mau poe larangan itu harus dilanggar.

“Karena kasihan juga kalau ada yang datang dari jauh pas hari-hari itu, masak iya disuruh pulang lagi?” kata Rijal.

Sirah Cilembang, Jadi Tempat Favorit Baru Untuk Berselfie

Rijal percaya, poe larangan tersebut diterapkan oleh sesepuh-sesepuh desa jaman dulu untuk menjaga keberadaan dan keberlangsungan mata air itu sendiri, agar mata air itu tetap lestari. Seperti halnya manusia yang sewaktu-waktu memerlukan waktu untuk menyendiri, begitu juga dengan alam, tidak bijak jika terus menerus mengeksploitasi tanpa membiarkannya beristirahat, karena jaman dulu tempat itu menjadi sumber air yang sangat vital bagi penduduk, dimana penduduk mengambil air dari tempat itu setiap harinya.

Selain poe larangan, Rijal menyebutkan ada juga pamali yang tidak boleh dilakukan di tempat itu, yaitu jangan pernah membawa terasi ke tempat mata air itu berada.

“Tapi pamali itu pernah ada yang melanggar, apalagi poe larangan itu, sekarang pasti dilanggar karena banyaknya pengunjung. Tapi toh, tidak terjadi apa-apa. Karena pamali dan poe larangan itu pastinya sama sekali tidak berkaitan dengan hal-hal mistis, tapi murni untuk menjaga tempat ini agar tetap lestari,” pungkas Rijal.

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dalam judul post "Sirah Cilembang, Danau Biru di Desa Hariang" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2015/12/sirah-cilembang-danau-biru-di-desa.html"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar