Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Alat Musik dan Seni Ajeng Dari Desa Cipelang

Kempul (Gong Kecil) dan Koromong, Alat Musik Seni Ajeng
Kempul (Gong Kecil) dan Koromong, Alat Musik Seni Ajeng
Seni Ajeng adalah salah satu kesenian asli Kabupaten Sumedang, tepatnya berasal dari Desa Cipelang, Kecamatan Ujung Jaya. "Ajeng" adalah nama sebuah kesenian dan juga nama seperangkat alat musik. Seperangkat alat musik Ajeng mirip dengan perangkat alat musik gamelan, yang diantaranya terdiri dari Koromong, Kempul (gong kecil), dan Goong (gong).

Alat musik ini dulunya diketemukan dalam sebuah penggalian yang dilakukan oleh Eyang Jagakerti dalam pembuatan saluran air, ketika sedang menggali tanah, tiba-tiba pada kedalaman tertentu Eyang Jagakerti menemukan seperangkat alat musik, alat-alat musik tersebut terkubur dan terlilit ditengah akar-akar tanaman yang sangat banyak, sehingga dulunya alat musik ini dinamai Jangkar Alam, karena ditemukan di tengah lilitan-lilitan akar.

Merunut dari sejarah awalnya, alat musik Seni Ajeng ditemukan oleh Eyang Jagakerti, Jagakerti adalah anak bungsu dari Sultan Jaya Ningrat, beliau mempunyai tiga saudara yaitu Ranggawati, Waragati, dan Puragati. Pada Suatu ketika, Sultan Jaya Ningrat mengutus keempat anaknya untuk membuat saluran air di Tegal Burangrang, Gunung Garunggang, yang terletak di daerah Ranji Kabupaten Majalengka sekarang. Namun, hanya Jagakerti yang menyanggupi permintaan ayahnya tersebut. Dalam melaksanakan tugasnya, Jagakerti dibantu oleh seseorang bernama Embah Kadar dan juga dibantu oleh masyarakat setempat.

Ketika penggalian sedang dilakukan, pada kedalaman tertentu ditemukan sebuah benda berupa alat musik Kempul (gong kecil), setelah itu ditemukan 28 benda lain berupa Koromong, dan yang terakhir ditemukan Gong besar pada saat mengakhiri penggalian saluran air. Sebelum diambil, kesemua benda tersebut berada dalam lilitan-lilitan akar yang menyerupai jangkar, sehingga awalnya alat musik ini dinamai Jangkar Alam. Setelah barang-barang temuan  tersebut diangkat dan dibersihkan, lalu coba dimainkan sebagai alat musik, ternyata masih berfungsi dengan baik dan akhirnya menjadi seni tradisional.

Pada suatu waktu, perkembangan keadaan membuat Jagakerti harus pindah dari Ranji (Majalengka) ke daerah Belendung (sekarang Cipelang, Sumedang). Bersama Embah Kadar, Jagakerti membawa serta Jangkar Alam untuk pindah ke daerah Belendung. Hingga Jagakerti dan Embah Kadar meninggal dunia, kesenian Jangkar Alam masih selalu dimainkan sebagai salah satu wasiat Jagakerti untuk melestarikan kesenian tersebut.

Alat musik Jangkar Alam selanjutnya diwariskan secara turun-temurun pada keturunannya, sebagai sebuah pusaka (benda bersejarah yang tidak ternilai harganya). Di kemudian hari, Jagakerti sering dipanggil dengan Embah Buyut Jagakerti untuk penghormatan, sedangkan Embah Kadar dipanggil dengan Embah Buyut Kadar. Makam Embah Buyut Jagakerti dan makam Embah Buyut Kadar berada di makam Desa Cipelang, tidak begitu jauh dari kantor Desa Cipelang.

Dikemudian hari, seni tradisional  Jangkar Alam sering dipentaskna dalam acara-acara pernikahan dengan adat sunda, karena hal tersebutlah lambat laun nama Jangkar Alam berubah menjadi Ajeng, Ajeng berasal dari kata pangajeng-ajeng, yang dalam bahasa Sunda artinya adalah "turut mengundang".

Aan S.Pd, Pewaris/Penjaga Alat Musik Ajeng Sekarang
Aan S.Pd, Pewaris/Penjaga Alat Musik Ajeng Sekarang
Dalam perkembanganya sekarang ini, sebagai benda bersejarah warisan leluhur, Seni Ajeng seringkali dimainkan dalam acara-acara ritual seperti hajat bumi, ataupun acara seremonial lainnya seperti peresmian-peresmian. hal tersebut dilakukan sebagai pelaksanaan wasiat, juga penghargaan kepada para pewaris sebelumnya (karuhun). Karena runutan sejarah tersebutlah, sekarang Desa Cipelang Sumedang menjadi desa pewaris alat musik tradisional  Ajeng dan Seni Ajengnya, hal tersebut diperkuat dengan keberadaan Makam keramat Embah Buyut Jagakerti di Desa Cipelang.

Sekarang, pewaris atau yang bertanggung jawab memelihara alat musik Ajeng ini adalah bapak Aan S.Pd, sekarang beliau bertempat tinggal Dusun Wisnu, Desa Cipelang, Kecamatan Ujung Jaya. Berikut, adalah hasil obrolan admin dengan bapak Aan di kediamannya.
.
UJUNG JAYA – Seni Ajeng sebagai salah satu kesenian dan alat musik buhun (tua) memerlukan regenerasi. Regenerasi yang dimaksud adalah upaya memunculkan nayaga baru dari pewaris, yang sebelumnya alat musik harus diduplikasi terlebih dahulu. Karena alat musik Ajeng  beberapa diantaranya sudah mengalami kerusakan.

Penjaga/pewaris alat musik Ajeng, Aan S.Pd mengatakan selain diakibatkan usia alat musik yang sudah tua, kerusakan juga diakibatkan oleh kelalaian. “Menurut penelitian dari pihak UNWIM, setelah ditelusuri alat musik ini berasal sekitar tahun 1551. Dengan usia setua itu, pemakaiannya juga harus apik, dulu pernah ada yang pinjam alat musik ini, pas dikembalikan ditemukan kerusakan,” ungkap Aan saat ditemui di kediamanya di Dusun Wisnu, Desa Cipelang, Ujung Jaya.

Alat Musik Ajeng Yang Sudah Rusak dan Tidak Bisa Dipakai
Alat Musik Ajeng Yang Sudah Rusak dan Tidak Bisa Dipakai
Selain itu, menurut Aan, seringnya alat musik Ajeng dipentaskan di luar kota dan dipakai dalam latihan gamelan rutin membuatnya cepat rusak, “Ini sudah dipentaskan di Ranji (Majalengka), Tasik, Jogja, sementara usianya sudah ratusan tahun, sudah rapuh, kalau dipakai terus menerus mungkin akan rusak, lagipula ini dibuat dari perunggu murni yang tipis, ini saja sebagian sudah ada yang rusak,” katanya sambil menunjuk alat musik Ajeng yang sudah rusak dan tidak bisa dipakai.

Aan menambahkan, selain sebagai salah satu usaha pelestarian benda purbakala, duplikasi juga diperlukan untuk mengembalikan fungsi musik dari alat musik Ajeng. “Sekarang karena sebagian alat musik yang ada sudah rusak, lagu yang bisa dimainkan pun jadi berkurang,” tambah Aan.

Aan menjelaskan, untuk membuat duplikasi alat musik Seni Ajeng diperlukan dana yang cukup besar. “Alat Musik Ajeng ini terdiri dari lima buah alat musik Koromong, Ketuk, Kecrek, Goong (dan Kempul), dan Kendang, untuk membuat duplikasi Koromong, Kempul dan Goong, dana yang diperlukan ditaksir sekitar Rp. 170 juta ,” ungkap Aan.

Aan mengaku, selama ini sudah berkali-kali membuat pengajuan proposal ke instansi terkait untuk membuat duplikasi alat Musik Ajeng, namun sampai saat ini belum terealisasi. “Sudah dari jaman Pak Don (Don Murdono), saya sampai lupa sudah berapa kali mengajukan, sudah berkali-kali juga revisi, sampai saat ini belum ada tanggapan,” ungkap Aan.

Aan berharap, Alat Musik Ajeng yang ada bisa segera dibuat duplikasinya. “Harapannya, secepatnya bisa dibuat duplikasi dari alat musik ini, supaya kerusakan yang ada tidak berlanjut, dan generasi mendatang masih bisa melihat alat musik bersejarah ini,” pungkas Aan.

Video Pertunjukan Seni Ajeng
 
Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dalam judul post "Alat Musik dan Seni Ajeng Dari Desa Cipelang" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2015/02/alat-musik-dan-seni-ajeng-dari-desa.html"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar