Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Tulisanmu Harimaumu

Persahabatan Wowo dan Wiwis, dan Pendukungnya Dipisahkan Oleh Media
Source : 1cak.com dan news.viva.co.id
Selamat pagi, siang, sore, malam sobat dunia maya semuanya, selamat datang di blog yang baru saja dibuat ini. Artikel ini merupakan postingan pertama di blog yang saya beri nama Insomnia Notes  ini, jujur saja untuk permulaan sebetulnya saya bingung mau menulis tentang apa.

Namun, saya mengira dan pastinya sobat semua juga setuju bahwa inti dari sebuah blog atau website rata-rata adalah sebuah tulisan, jadi mungkin tema itu pula yang akan saya coba angkat di sini sekarang, namun dengan pemaparan seseorang yang sedang mengalami insomnia dan mulai terkantuk-kantuk, saya harap sobat maklum jika tulisannya kejedot sana sini dan tidak terstruktur dengan baik.

Ada pepatah yang mengatakan, mulutmu harimaumu, tentunya kita semua sudah tahu dan paham arti dari pepatah tersebut, yang artinya kurang lebih perkataan yang tidak difikirkan dengan baik sebelum diucapkan akan merugikan diri sendiri dan lebih jauhnya merugikan orang lain. Tidak menutup kemungkinan, banyak juga dari kita yang sudah pernah merasakan manisnya pelajaran dari pepatah tersebut, dalam artian kita pernah memperoleh masalah atau pelajaran gara-gara tidak bisa menjaga ucapan kita, walaupun mungkin masalahnya hanya dalam skala kecil.

Dan, saya pun mungkin termasuk yang sering mengalaminya, saya termasuk orang yang sering mendapatkan pelajaran karena kurang bisa mengontrol lisan, saya ambil sisi positifnya saja mudah-mudahan kedepannya saya bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan lebih bisa menjaga lisan lagi untuk kedepannya.

Seiring dengan berkembangnya jaman dan teknologi, menurut saya istilah atau pepatah mulutmu harimaumu ini juga ikut mengalami perkembangan, di era digital ini kita bisa dengan mudah menjumpai opini-opini yang berseliweran di dunia maya sebagai bentuk ucapan yang ditransformasi ke dalam bentuk tulisan, siapa saja bisa melihatnya dan siapa saja bisa membacanya, jadi mungkin pepatah "Mulutmu Harimaumu" itu juga bisa ikut berkembang menjadi "Tulisanmu Harimaumu".

Karena di era digital seperti sekarang ini,  tulisan mempunyai kelebihan dibanding lisan dalam hal daya jelajah dan cakupannya, karena tidak semua orang bisa membuat video yang bisa dilihat secara visual dan didengar secara verbal untuk mempengaruhi orang lain, tapi tentunya setiap orang pasti bisa membuat sebuah tulisan walau hanya dalam bentuk kutipan-kutipan pendek seperti status facebook, twitter, path, dan sejenisnya.

Kita sudah ketahui dan lihat sendiri, hanya dengan tulisan-tulisan singkat dalam bentuk tweet tweet di media sosial seperti facebook dan lainnya, tak jarang bisa memunculkan masalah dan perselisihan antar penggunanya. Lalu bagaimana dengan tulisan-tulisan yang katanya terlihat lebih intelek di website-website atau blog personal (dan juga blog/website yang berkedok mengatasnamakan berita) ?? tentu ini pengaruhnya bisa lebih besar lagi.

Disadari atau tidak, kebanyakan orang berpendapat bahwa tulisan-tulisan di blog atau website itu terkesan lebih intelek dan lebih bisa dipercaya, ini menjadikan tulisan di blog atau website juga bisa menggiring opini dan pendapat masyarakat, karena buktinya, begitu banyak tulisan-tulisan blog/website yang dishare ke media sosial mini blogging dan dijadikan rujukan oleh para netter.

Padahal, mungkin saja tulisan yang mereka share tersebut ditulis oleh orang atau penulis yang sama-sama awam juga tentang apa yang ditulisnya dan hanya ikut-ikutan menulis tentang moment yang sedang ramai dibicarakan, hanya bedanya ia sudah bisa mengekspresikan tulisannya lewat media sosial yang katanya lebih intelek itu yaitu blog/website.

Hal ini diperparah lagi dengan kebebasan berpendapat (dan juga menulis) yang semakin tak terbendung belakangan ini, padahal kalau lah kita mau renungkan, awaminisme (halah) + kebebasan berpendapat (dan menulis) yang tak terbatas maka hasilnya?? seketika kehancuran peradaban sudah tampak di depan mata.

Biasanya opini-opini yang asal ucap dan asal tulis seperti ini akan ramai pada moment-moment tertentu, saya ambil contoh yang sedang hangat belakangan ini adalah mengenai Pemilihan Presiden 2014. Pilpres kali ini dirasa sangat berbeda dengan pilpres-pilpres sebelumnya karena hanya diikuti oleh dua calon presiden, situasi ini membuat pertarungan semakin seru karena head to head satu lawan satu antar calon presiden. Dan ternyata bukan hanya itu saja, rakyat Indonesia juga seolah ikut terbelah menjadi dua kubu yang saling berlawanan, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, dan sebagainya.

Pada saat-saat seperti inilah kebebasan berpendapat (dan menulis, tanpa menguasai masalah dan hanya serampangan mengambil sumber penulisan) mulai menampakan wajah aslinya, imbasnya bukan mencerdaskan tapi malah menghancurkan, opini dan kebebasan yang ada malah lebih besar mudharatnya, destruktif.

Banyak tulisan-tulisan tentang politik yang berseliweran di dunia maya, yang saya yakin kebanyakan penulis tidak mempunyai kapabilitas untuk itu, dan tidak mempunyai pegangan atau sumber yang benar-benar shahih juga dalam tulisannya, baik untuk menggambarkan pihak yang dibelanya maupun pihak yang disudutkan dalam tulisannya, tulisan dibuat hanya berdasarkan ego dan emosi yang meluap-luap dari seorang simpatisan, tanpa mengindahkan etika dan cara menulis yang benar. Tulisannya jauh dari gambaran hasil karya seorang akademisi yang ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan, tulisan yang berseliweran kebanyakan hanya berupa opini yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, dan pijakan dasar penulisannya pun hanya mengandalkan sumber "katanya" dan "katanya".

Bagi masyarakat awam, tentunya ini akan menimbulkan kebingungan, banyaknya informasi yang mereka dapatkan memang bisa membuat mereka tahu banyak, tapi tidak mustahil juga malah membuat mereka tersesat lebih jauh karena terlanjur mengambil dan mengamini opini yang salah tadi. Tulisan-tulisan opini yang berseliweran dan tidak mendasarkan tulisannya pada keilmuan ini ibarat peluru yang ditembakkan membabi buta ke segala arah tanpa sasaran yang jelas, siapa saja bisa terkena desingan pelurunya, dalam artian siapa saja bisa membacanya dan semakin tersesat karenanya.

Tidak masalah jika orang yang membaca tulisan tersebut adalah cerdik pandai yang tahu banyak, yang akan mengabaikan tulisan tersebut dan menganggapnya sebagai dagelan semata, tapi yang ditakutkan adalah opini-opini seperti ini dibaca dan diamini oleh orang awam yang tidak tahu apa-apa dan juga dijadikan rujukan oleh mereka yang sama-sama fanatik terhadap  apa yang dibela (dalam hal ini mengenai pilpres), membuat semangatnya semakin menggelora karena ada "pembelaan" dan "cahaya" dari tulisan yang dianggapnya intelek itu. Dikhawatirkan ini menjadi tidak normal dan bisa menggiring ke arah kesesatan seperti yang tadi disebutkan. 

Ini tentunya lebih berbahaya ketimbang ungkapan "Mulutmu Harimaumu", karena dengan lisan mungkin kita hanya melukai hati satu, dua, atau sekelompok orang yang berinteraksi dengan kita, karena kita bukan orang besar yang bisa berpidato di depan banyak orang. Sedangkan dengan tulisan "asal jadi" yang dishare dimedia sosial, itu bisa melukai dan mengotori hati serta pikiran banyak orang, yang pada giliran selanjutnya bisa melahirkan harimau-harimau baru yang kadung menjadikan tulisan-tulisan tak bertanggung jawab tersebut sebagai rujukan.

Jadi, kalaulah kita mempunyai niat berkreatifitas melalui tulisan dengan maksud ditujukan pada khalayak, jadilah orang yang bertanggung jawab dengan menulis apa-apa yang memang bisa dipertanggung jawabkan. Sebelum menulis tentunya kuasailah masalahnya terlebih dahulu, cari sumber dan referensi yang benar serta tulis dengan kaidah-kaidah keilmuan, dan jangan lupa mereka yang menulis dengan maksud memberi pencerahan tentunya tidak akan pernah memihak, semuanya seimbang dan ditulis dengan konsep yang matang sehingga tidak terkesan memojokkan.

Ibarat pepatah, sesuatu akan hancur jika dikerjakan bukan oleh ahlinya, mungkin begitu juga dengan sebuah tulisan, hanya mereka yang memang menguasai ilmunya-lah yang tulisannya benar-benar bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas, dapat dipertanggung jawabkan, dan tidak merusak pemikiran orang lain.

Ini mungkin yang harus direnungkan oleh mereka yang gemar beropini dan menulis, bahwa kreatifitas dan kebebasan menulis tetap harus didasarkan pada kaidah yang ada, supaya karya yang dihasilkan tidak ngawur dan dapat dipertanggung jawabkan layaknya karya-karya ilmiah, opininya pun akan berkelas dan lebih berkualitas, serta tidak dianggap "alay" oleh kaum cerdik pandai.

Dan akhirnya, percayalah, apa yang kita tulis dan kita ungkapkan itu mencerminkan siapa diri kita sebenarnya. Lewat tulisannya, akan terlihat apakah memang benar sang penulis memiliki pengetahuan tentang apa yang ditulisnya, akan terlihat kejernihan hatinya dalam menulis setiap baris katanya, dan akan terlihat juga apakah tulisannya itu untuk memberikan pencerahan (dan dapat dipertanggung jawabkan) atau hanya sekedar untuk memperkeruh suasana.

Kata-kata yang yang kita tuangkan dalam tulisan akan kembali pada diri kita, melalui penilaian orang lain yang membaca tulisan tersebut, disitu pula kita akan memperoleh kepuasan karena menuai pujian atas hasil kreatifitas, atau justru mendapat caci maki karena buruknya kualitas, penyampaian, dan keilmuan kita atas sesuatu yang kita tulis tersebut.

Source : memecomicindonesia.com

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar