Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Assalamualaikum. Selamat datang di web Insomnia Notes, semoga kesehatan dan kelimpahan rezeki selalu tercurah limpah kepada para pembaca semua. Melalui ini, saya Jeryanuar selaku admin mengajak para pembaca untuk mensuport akun Youtube admin dengan menonton dan subscribe di link berikut ini : Vlog Tahu Sumedang. Hanya dengan menonton dan subscribe, (gratis) sahabat sudah membantu channel tersebut untuk bisa terus berkembang. Terima Kasih.

×

Nikmat Tuhan di Hijaunya Desa Wado


Suasana di Desa Wado

Merupakan sebuah anugerah bagi kita, utamanya yang tinggal di pedesaan, untuk bisa menghirup udara pagi yang segar dan membangkitkan semangat, karena tentunya tidak semua orang bisa menikmati suasana seperti itu setiap harinya.

Suasana yang segar dan memanjakan mata di Desa Wado Kecamatan Wado Sumedang, keindahan alam, udara yang sejuk, gemericik air, hembusan angin yang terasa membelai disatu sisi membuat betah dan membangkitkan semangat, tapi di sisi lain bagi admin yang jarang menjumpai suasana seperti ini justru malah mengantuk saking menikmatinya, menikmati alam yang begitu hijau dan belum terjamah kejahilan tangan-tangan manusia. Jika kita mau merenung, benarlah sabda Allah Tuhan kita dalam firmannya surat Ar-Rahman yang dalam salah satu ayatnya berbunyi :

"fabiayyi alai rabbikuma tukadziban" (maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Dan kalimat itu diulang berkali-kali dalam surat ini, apa gerangan artinya? karena sebagaimana kita tahu salah satu makna pengulangan dari sebuah kata atau kalimat adalah sebagai bentuk penegasan, perlulah kita kiranya merenunginya secara lebih mendalam.

Betapa seringnya kita manusia mengeluh ini itu, padahal kita telah diberi berbagai kemudahan dan kesempurnaan oleh Allah Sang Maha Pemberi., benar mungkin sindiran kita baru akan merasakan nikmat sesuatu itu justru ketika kita telah kehilangannya, dan rata-rata yang paling jarang kita sadari yaitu nikmat sehat, nikmat sehat baru akan terasa ketika kita jatuh sakit, lah apa harus sakit dulu baru mau berfikir dan bersyukur?

Suasana di Desa Wado

Ketika menghirup udara segar di desa ini, membuat admin merenung sejenak, Alhamdulillah ternyata masih diberikan izin untuk menghirup udara segar dengan gratis, karena jika Allah mau hitung-hitungan pada kita, hanya untuk bernafas saja kira-kira berapa biayanya ?? perdetik, perjam, perhari ?? pastilah kita tidak akan sanggup membayarnya, Subhanallah hanya Allah yang Maha Pemberi.

Bayangkan juga saudara-saudara kita yang mempunyai asma atau diberi cobaan sakit paru-paru lainnya, yang untuk bernafas saja (yang malah jarang kita pikirkan, serasa bernafas itu gratis saja) harus keluar biaya lebih demi untuk menyamai hirupan nafas orang kebanyakan yang paru-parunya sehat. Dan kita bayangkan bagaimana tersiksanya ketika sakitnya kambuh, mudah-mudahan kita bisa lebih berempati dan bersyukur. Itu baru tentang udara, nafas, belum mata, hidung, tangan, kaki, telinga, anggota tubuh lainnya dan semua nikmat dari-Nya, ya Allah, malu diri ini.

Mungkin itu renungan admin yang masih hijau ini ketika menghirup segarnya udara di desa ini, sebuah renungan standar yang telah banyak orang lain lakukan dan kini admin ikuti, karena semangat introspeksi diri ini kadang muncul begitu menggebu-gebu, tapi seringnya hilang entah kemana ditelan indahnya tipu daya dunia. Mudah-mudahan bermanfaat.

Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dengan judul "Nikmat Tuhan di Hijaunya Desa Wado" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2013/06/suasana-khas-pedesaan-3.html"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar