Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Assalamualaikum. Selamat datang di web Insomnia Notes, semoga kesehatan dan kelimpahan rezeki selalu tercurah limpah kepada para pembaca semua. Melalui ini, saya Jeryanuar selaku admin mengajak para pembaca untuk mensuport akun Youtube admin dengan menonton dan subscribe di link berikut ini : Vlog Tahu Sumedang. Hanya dengan menonton dan subscribe, (gratis) sahabat sudah membantu channel tersebut untuk bisa terus berkembang. Terima Kasih.

×

Jembatan Cincin, Warisan Yang Terlupakan


Jembatan Cincin di Desa Hegarmanah

Jembatan Cincin, ya, jembatan inilah yang menjadi salah satu landmark Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Mengutip dari Wikipedia, Jembatan ini pada awalnya dibangun oleh Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf, sebuah perusahaan kereta api milik Belanda pada tahun 1918. Pada saat itu, jembatan ini berfungsi sebagai salah satu jalur kereta api yang menghubungkan daerah Rancaekek dan Tanjungsari. Kereta ini menjadi penunjang lancarnya perkebunan karet di Jawa Barat, dan menurut kabar dari warga sekitar yang sudah lama tinggal di tempat tersebut, Jembatan Cincin ini hanya beroperasi semenjak tahun 1918 hingga tahun 1942.

Tahun 1942 menjadi terakhir kalinya Jembatan Cincin ini dioperasikan, karena semenjak kedatangan tentara Jepang ke Indonesia Jembatan ini sudah tidak pernah lagi dipakai dan diambil alih oleh Jepang, tiang dan besi-besinya pun dibongkar.

Melihat dari sisi sejarah, tentunya keberadaan Jembatan Cincin sangat penting sebagai warisan sejarah bangsa Indonesia pada umumnya dan kabupaten Sumedang pada khususnya, pemerintah setempat wajib melindungi serta melestarikan peninggalan sejarah tersebut sebagai jatidiri dan identitas Kabupaten Sumedang. Keadaan Jembatan Cincin sekarang tidak jauh berbeda dengan apa yang terlihat difoto yang admin posting di atas, Jembatan Cincin yang megah tampak tidak terawat.

Admin mengambil foto jembatan Cincin ini dari arah kampus Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Padjadjaran, Jatinangor Kabupaten Sumedang. Mudah-mudahan kedepannya Pemerintah Daerah setempat bisa lebih memperhatikan warisan-warisan sejarah seperti Jembatan Cincin ini di Kabupaten Sumedang, agar generasi mendatang tetap bisa menikmati keindahan serta kemegahannya di masa yang akan datang. Oh ya, Jembatan Cincin ini tempatnya tidak begitu jauh dari landmark Kecamatan Jatinangor lainnya yaitu Menara Loji.


Note : Di domain blog saya yang sebelumnya (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini diterbitkan dalam judul "Jembatan Cincin, Warisan Yang Terlupakan" dengan url sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2012/11/jembatan-cincin.html"


Ring Bridge, Forgotten Legacy.  The Ring Bridge in the Village of Hegarmanah

The Ring Bridge, yes, this bridge is one of the landmarks of Jatinangor District, Sumedang Regency.  Quoting from Wikipedia, this bridge was originally built by Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf, a Dutch-owned railroad company in 1918. At that time, this bridge served as one of the railroad lines connecting the Rancaekek and Tanjungsari areas.  This train is a support for smooth rubber plantations in West Java, and according to news from local residents who have long lived in that place, the Ring Bridge has only been operating since 1918 until 1942.

In 1942 the Ring Bridge was the last time to operate, because since the arrival of Japanese troops to Indonesia this bridge had never been used and taken over again by the Japanese, its poles and iron were dismantled.

Looking from the historical side, of course the existence of the Ring Bridge is very important as the historical heritage of the Indonesian people in general and Sumedang district in particular, the local government is obliged to protect and preserve these historical relics as the identity and identity of Sumedang Regency.  The condition of the Ring Bridge now is not much different from what is seen in the photo that the admin posted above, the magnificent Ring Bridge looks unkempt.

Admin takes a photo of the Cincin bridge from the direction of the campus of the Faculty of Communication Science (FIKOM) Padjadjaran University, Jatinangor, Sumedang Regency.  Hopefully in the future the Local Government can pay more attention to historical heritages such as the Ring Bridge in Sumedang Regency, so that future generations can still enjoy its beauty and splendor in the future.  Oh yes, the Ring Bridge is not so far from other Jatinangor District landmarks, Menara Loji.

 See: Loji Tower, Your History Now

Note: In my previous blog domain (www.wewengkonsumedang.com), this article was published under the heading "Ring Bridge, Forgotten Legacy" with the following url;  "http://www.wewengkonsumedang.com/2012/11/jbridge-cincin.html"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar