Mulai Ngawur

Baca Juga


Mulai Ngawur
Image By : kaskus.co.id
Mulai ngawur, ya, entah kenapa masyarakat di negara kita sekarang ini sepertinya semakin ngawur saja dari hari ke hari (termasuk saya pribadi), ngawur bagaimana maksudnya?? yah begitu, saya rasa ngawur itu bisa multitafsir, tapi intinya adalah perbuatan yang asal dilakukan dan tidak memikirkan apakah perbuatan tersebut benar atau tidak, juga tidak mempertimbangkan akibatnya.

Dalam prakteknya, bisa berupa melakukan dan menanggapi sesuatu dengan ilmu yang kurang memadai, dan ataupun melakukan sesuatu dengan ilmu yang memadai tapi tidak siap menerima reaksi dari orang-orang yang ilmunya kurang memadai, sampai lain mulut lain dihati lain sikap lain ucapan gara-gara ilmu yang terlalu memadai tapi mengakali orang yang ilmunya kurang memadai sehingga perkataanya terlihat benar, untuk yang ilmunya lebih tinggi, perbuatan tipe yang terakhir ini sangat-sangat ngawur, nah pusing kan ?? sok aja lah pusing sendiri, toh saya cuma bicara ngawur saja.

Kalau sobat pusing menerjemahkan maksud kata-kata ngawur diatas, ya berarti terbukti bahwa kata-kata ngawur itu memang bikin pusing dan paling kita akan berkata "ngomong apa sih ini ?? gak penting bingit !!", atau sebaliknya bagi yang mengerti maksud kata-kata ngawur diatas paling bakal bilang "apa sih lu?? so iyeh benggeut, emang lu sendiri ngerasa masuk golongan yang mana??", begitulah kira-kira, dimana ada aksi pasti ada reaksi, bukan begitu ??

Kata-kata ngawur sebenarnya bisa juga buat lucu-lucuan, tapi kebanyakan ya malah menyebalkan, apalagi bagi mereka yang sedang PMS seperti saya, huh, bikin emosi tingkat dewa bisa-bisa. Yah, itulah, kengawuran bisa berakibat fatal tergantung dari reaksi atau respon yang ditimbulkan dari kengawuran tersebut, seperti segala sesuatu di dunia yang pada hakikatnya bersifat netral, ngawur itu status awalnya mungkin sebenarnya netral juga

Hanya, reaksi yang ditimbulkanny-lah yang kadang bisa bikin gaduh, karena reaksi untuk mereka yang berkata ngawur sekarang ini sudah bukan hanya ditegur dan dikoreksi saja, melainkan juga diejek, sampai dicuci muka...eh, dicaci maki, gak lucu yah ?? plis jangan dicaci maki ya, kan ngawurnya sudah berusaha lebih elegan.

Lalu, kenapa ya sekarang rasanya respon atau reaksi dari sesuatu yang ngawur itu rata-rata terasa berlebihan, ya seperti mengejek dan mencaci maki itu, kenapa coba kira-kira?? dan lebih jauhnya caci makinya malah jadi ngawur juga, lebih ngawur malah, bisa merembet kemana-mana sampai menghina suku atau orang tua.

Banyaklah yang bisa memancing reaksi atau komentar-komentar ngawur di negara kita mah, mulai dari sepakbola, selebritis, agama, sampai politik, bahkan jaman sekarang ini sesuatu yang sebenarnya normal-normal saja pun bisa dikomentari ngawur, ya apalagi sesuatu yang memang benar-benar ngawur dari sananya, komentarnya pun pastinya bisa lebih ngawur lagi. Kabar yang bikin heboh belakangan ini adalah kenaikan harga BBM atau bahan bakar minyak, ini juga sudah terbukti dan terpampang nyata reaksinya banyak yang ngawur.

Lalu, kenapa juga masyarakat di negara kita ini sepertinya hampir selalu menanggapi segala sesuatunya dengan ber ngawur-ngawur ria ? (apalagi di media sosial), bahkan kadang ngawurnya begitu berapi-api !? padahal jaman dulu mah pan tidak seperti itu, konon masyarakat di negara kita dikenal oleh negara luar sebagai masyarakat yang cool and calm, murah senyum dan selalu bertenggang rasa pada yang lainnya.

Sepertinya sekarang realitanya tidak seperti itu yah?? tanya kenapa?? padahal sedari kecil mulai dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan atas pun pelajaran moral selalu kita dapatkan, lha kok sepertinya pelajaran tersebut tidak membekas dikebanyakan kita sekarang?? ibarat air di daun kelor gituh...eh, daun kelor apa daun keladi sih ?? sudah tak usah diperdebatkan, nanti malah makin ngawur.

Menurut saya pribadi yang suka ngawur ini, sepertinya hal tersebut adalah dampak dari zaman yang sudah berubah dimana selain diperlukan bimbingan dan pengawasan orang tua yang intensif dalam masa perkembangan anak, juga diperlukan terobosan baru untuk menertibkan kita-kita ini.

Kalau cuma mengandalkan pelajaran moral dan PPKN dari sekolah mah itu sudah jelas tidak akan masuk dan tidak akan bisa merubah kita-kita menjadi lebih tertib, saya yakin dah, toh yang bisa menghancurkan moral diluar sekolah itu lebih banyak lagi. Balik lagi ke tema kita, kenapa sih sekarang kita-kita ini sepertinya hobi sekali untuk ngawur dan ngasal dalam mengomentari sesuatu ?? saya coba tuliskan beberapa point sederhana yang mungkin menjadi penyebabnya :

#1. Kebebasan berpendapat dan berekspresi yang kebablasan
Kebebasan berpendapat dan berekspresi yang kebablasan. Sejak zaman reformasi, negara kita memberikan kebebasan berpendapat dan berekspresi pada rakyatnya, parahnya, sebagian orang di negara kita pada saat itu sepertinya memanfaatkan hal tersebut sebagai ajang balas dendam, karena pada masa sebelumnya hak-hak mereka dalam berekspresi dikebiri habis, inilah sepertinya yang menjadi cikal bakal atau akar dari kengawuran yang mendarah daging sekarang ini.

Apalagi sekarang zamannya media sosial, siapapun dari golongan apapun dan umur berapapun dapat dengan mudah menumpahkan ekspresinya, mulai dari hal biasa sampai unek-unek dan amarah, dan siapa pun yang ada dalam lingkaran pertemanan di media sosialnya akan dengan mudah melihatnya. Di arena itulah bahkan anak bau kencur bisa menantang dan menyanggah segala sesuatu yang berada diluar kemampuan otaknya, perkataan seorang profesor dibilang basi, kisah kearifan seorang tokoh dibilang munafik, dan lain-lain.

#2. Sikap apatis atau masa bodoh tapi sok tahu
Sikap apatis atau masa bodoh tapi sok tahu, yah mungkin ini kelanjutan dari point yang telah disebutkan diparagraf pertama yaitu melakukan dan menanggapi sesuatu dengan ilmu yang kurang memadai, dimana sikap apatis membuatnya tidak peduli dan malas untuk mempelajari dan mencari tahu tentang suatu hal yang akan ia komentari, atau lebih jauhnya menganalisis informasi yang didapatkan dari pencariannya tersebut.

Atau bisa juga merasa cukup dan merasa sudah pintar dengan mengetahui sedikit saja, lalu menggunakan pengetahuannya yang sedikit tersebut untuk mengomentari hal yang rumit. Gampangnya, dia malas mencari tahu kebenaran tentang sesuatu hal, atau hanya mencari tahu tapi sedikit saja, dan disisi lain ini diperparah oleh sikapnya yang sok tahu dan selalu ingin menyampaikan argumennya...nah loh?? blasss jadinya kan ?? dia sebenarnya tidak tahu apa-apa tapi ikut mengomentari sesuatu yang tidak dia ketahui secara mendalam, Jaka Sembung bawa golok kalau begitu kan ?

#3. Kesenjangan sosial
Kesenjangan sosial. Mungkin, kesenjangan sosial juga merupakan salah satu hal yang bisa membuat orang semakin ngawur, kesenjangan sosial kini semakin nampak dan seolah menjadi bom waktu yang siap meledak. Bagaimana tidak, ketika banyak orang berjuang setengah mati hanya untuk mempertahankan hidupnya, ketika banyak orang tua dadanya sampai kembang kempis untuk menyekolahkan anak-anaknya, dan lain-lain...dilain waktu ketika mereka beristirahat dan sejenak mengendurkan urat syaraf, tayangan televisi kebanyakan yang dilihatnya adalah tayangan tidak bermutu, mulai dari glamournya pernikahan selebriti, sampai sinema elektronik yang menenonjolkan gaya hidup mewah, ah mungkin jauhnya bumi dan langit akan langsung terasa, gerutuan akan nasib mungkin akan terlontar saat itu juga.

Belum lagi anaknya yang merengek ingin ini itu kemewahan yang ditayangkan ditelevisi, minimal ingin hape yang bisa facebookan, sesusah-susahnya orang tua pasti berusaha memenuhinya...ah, sudah jatuh tertimpa tangga, setelah anaknya dibelikan hape yang bisa facebookan, ternyata ia makin banyak minta ini itu karena dalam lingkaran pertemanan akun sosmednya ia berteman dengan orang-orang kaya yang selalu pamer kemudahan dan kebahagiaannya hidupnya. Walhasil, orangtuanya menggerutu dan semakin lama semakin ngawur dengan ocehan dan kekesalannya, dilain pihak,  anaknya mengeluh menggerutu dan menumpahkan unek-uneknya yang semakin ngawur tentang orang tuanya, tentang teman-temannya, dan tentang semuanya di akun sosmednya.

#4. Rasa lapar
Rasa lapar. Sudah umum diketahui, rasa lapar akan sangat mempengaruhi kondisi jiwa seseorang, Sobat tahu iklan Snic*er ?? itu lho makanan ringan yang katanya bisa membuat kita kenyang dan bisa dipakai untuk menahan lapar, ini iklan produk makanan yang lucu dan bisa membuat kita tertawa, dalam iklannya yang terbaru digambarkan seorang pria yang duduk dikursi belakang mobil marah-marah dan mengucapkan kata-kata yang bisa dibilang ngelantur, bintang iklan yang memerankan pria marah-marah tersebut adalah aktor Toro Margen, dan ketika diberi Snic*ker yang mengenyangkan tersebut Toro Margen berubah jadi seorang pemuda tampan yang mengembangkan senyumnya kembali karena sudah merasa kenyang.

"Karena lapar bisa ngerubah orang" katanya, pariwara tersebut sangat lucu dan seringnya membuat saya tertawa ketika melihatnya, padahal kalau kita mau merenunginya, iklan tersebut sungguh menggambarkan realita yang banyak terjadi di negara kita ini, setuju tidak?? sejenak mari kita bayangkan seorang ibu berstatus janda yang harus menghidupi anak-anaknya, bayangkan nenek tua renta yang sampai usia senjanya dia masih harus mencari kayu bakar ke hutan untuk menyambung hidupnya, bayangkan kesedihan, amarah, dan unek-unek yang bergelora di hati mereka karena rasa lapar yang sering menghiggapi hidup mereka.

Pada banyak kasus, rasa lapar dan kekurangan ini itu akan membuat orang semakin kalut, tidak hanya mulai ngawur, dia juga berani mencuri, merampok, sampai membunuh, minimal membunuh ayam untuk kemudian dimasak (serius amat bacanya).
Protes BBM Naik
Image By : uniqpost.com
Pastinya masih banyak lagi faktor yang bisa mempengaruhi seseorang menjadi gampang berkata ngawur (terutama di media sosial), point diatas adalah faktor-faktor sederhana saja yang seringnya terjadi disekitar kita bahkan mungkin salah satunya terjadi pada diri kita sendiri. Sekarang mari kita coba bayangkan jika semua point diatas digabung dan terjadi pada diri seseorang.

Jika ada seseorang yang hidupnya sudah akrab dengan rasa lapar dan harus bersusah payah banting tulang untuk bertahan hidup, senen makan selasa puasa, rabu ngutang kamis dibayar, lalu ia berada di tengah lingkungan yang sangat menohok mata kesenjangan sosialnya, rumahnya yang sederhana dengan tv berwarna 14 inch sebagai barang paling mewahnya, bersebelahan dengan rumah orang kaya yang sangat mentereng, dan itu diperparah dengan tayangan tv yang kadang ia saksikan, dimana tv yang dilihatnya menayangkan berbagai macam kesenangan dunia yang tak pernah dikecapnya, kira-kira bagaimana kondisi hati dan pikirannya ?? tentunya macam-macam reaksinya, dari yang pasrah dan meyerahkan semua pada Tuhan, sampai yang menggerutu dan meratapi nasibnya.

Bukan, itu bukan cerita penderitaan di sinetron, karena saya rasa mereka yang hidup dengan kondisi seperti itu  masih sangat banyak sekali pisan di negara kita tercinta Indonesia ini, dan alangkah sangat wajar jika mereka semakin menggerutu dan menumpahkan unek-uneknya jika beban hidup mereka bertambah.

Contoh terbaru adalah kenaikan harga BBM atau bahan bakar minyak kemarin, mungkin bagi kita yang hidup agak berlebih bisa saja menerima dengan sukarela tanpa protes, mau bagaimana lagi toh itu sudah keputusan pemerintah...tapi mari bayangkan bagaimana dengan mereka ?? ini sepertinya klise, tapi mari kita coba tepo seliro, toh untuk tepo seliro tidak bikin kulit keriput.

Pembagian Dana Kompensasi, BLT
Membantu Mengurangi Kemiskinan,
Atau Menumbuhkan Mental Miskin ??
Image By :
portalkbr.com
Bagai panah bermata dua, mungkin tujuan pemerintah menaikan harga bbm bertujuan baik, dimana katanya dana subsidi bahan bakar minyak lebih baik dialihkan untuk berbagai sektor produktif sehingga diharapkan nantinya Indonesia bisa mengalami kemajuan ekonomi, dana yang terkumpul juga bisa dipakai untuk membangun perpustakaan, sekolah, jembatan, jalan tol, dan sarana  infrastruktur lainnya, kalau semua sudah dibangun, Indonesia akan lepas dari era tertinggal di landasan.

Tapi, apapun tentunya memerlukan pengorbanan, dalam hal ini mereka yang berkorban di garda terdepan sepertinya ya masyarakat yang mengalami berbagai faktor diatas, yang mungkin tidak bermimpi tentang perbaikan negeri di masa yang akan datang, dia hanya berpikir bagaimana cara bisa bertahan hidup sampai esok hari, toh dana kompensasi BLT belum tentu kebagian karena sepertinya managemennya masih belum sempurna, atau jika mendapatkan jatah pun harus antri sampai menggadaikan nyawa berdesakan ditengah kerumunan orang, karena BLT juga sering dipelesetkan menjadi Bantuan Langsung Tewas. Dengan naiknya harga BBM mereka sudah membayangkan esok mereka harus berjuang lebih keras lagi (ya iya atuh ya, jangan manja !! begitu mungkin kebanyakan kita akan berkata). Kalau mereka jadi menggerutu, melampiaskan unek-uneknya, apa itu wajar juga ?

Harga BBM Naik
Image By :
kaskus.co.id
Ah tapi entahlah, toh semua itu juga bisa terbantahkan oleh realita yang juga banyak terjadi di negeri kita ini, karena orang tidak mampu juga banyak yang menjadi oknum, katanya tidak mampu dan miskin tapi rokok sehari habis 2 bungkus, katanya tidak mampu dan menerima BLT tapi sembari menunggu antrian dia telefonan dengan seseorang nun jauh disana, katanya tidak mampu dan masuk daftar penerima BLT tapi memakai kalung, gelang, dan anting emas, katanya pelajar harus ngirit tapi sering trek-trekan buang-buang bensin percuma, ah dan banyak lagi contoh lainnya yang miskinnya seolah dibuat sendiri, dan memang mentalnya mental miskin.

Tapi sepertinya yang miskinnya benar-benar miskin, tidak mampunya benar-benar tidak mampu itu lebih banyak lagi di negara kita, yang butuhnya benar-benar butuh itu lebih banyak lagi. Kalau sudah begitu...kira-kira bagaimana yah ?? bagaimana apanya ?? hayo ?? anggap saja ini suratan takdir gitu ?? mau nerimo saja ?? apa mau protes ?? mau protes juga silahkan toh itu diijinkan di negara kita ini, asal jangan ngawur hina sana sini saja, bukan begitu ?? Akhir kata, poin dan pelajaran penting yang bisa kita ambil dari fenomena ini adalah...ah, sudah...langsung sudahan saja dulu yah ngawurnya, mulai ngantuk nih.

No comments:

Post a Comment