Skip to main content
Insomnia Notes

follow us

Berbuat khilaf adalah sifat. Meminta maaf adalah kewajiban. Dan kembalinya Fitrah adalah tujuan. Saya, admin blog Insomnia Notes MEMOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN. Minal Aidin Wal Faidzin Taqabalallahu minnaa wa minkum. Selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1440 H.

×

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Foto di atas adalah foto lama, diambil sekitar 10 tahun lalu di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat kala mendung menggelayuti kota Bandung, di sebuah senja. Ah, kok jadi kangen masa-masa itu ya...heuheu, apalagi yang jepret foto ini adalah si dia yang antara saya dan dirinya kini sudah jauh terpisah tak pernah lagi bertemu tatap. Well, namanya juga darah muda ya, kala banyak rasa menggelegak dalam dada menjadikan tiap episode hidup selalu seru bak adegan drama. Tiap tempat yang disinggah akan tercatat dalam kenangan, ia tak hanya nampak di mata dan berlalu begitu saja, tapi akan jauhhh membekas dalam memori dan mengendap di alam bawah sadar *ini ngomongin apa sih.

Betewe, kenapa saya post foto lawas di artikel kali ini adalah karena, saya sedang terkenang pada tempat ini gegara kemarin-kemarin nonton Preman Pensiun. Seperti kita ketahui, film Preman Pensiun ini berkisah tentang mantan-mantan preman yang tobat, dan berusaha menjalani kehidupan seperti yang seharusnya, sebagaimana mestinya seperti kebanyakan orang, jauh dari perkelahian, dan kekerasan. Film bergenre drama komedi ini mulanya tampil sebagai serial di layar kaca, dan belum lama ini diangkat ke layar lebar.

Di serialnya dulu, berbagai adegan Preman Pensiun di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat ini selalu jadi andalan. Pun dalam layar lebarnya kemarin, ada salah satu scene yang memperlihatkan Kang Mus, sang tokoh utama, bertemu dengan mantan anak buahnya di tempat ini. Jadi mungkin bisa dibilang tempat ini seolah jadi "ruh" nya fim tersebut, harus bin wajib ada pada tiap episode.

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Jalan Dipatiukur ini sejatinya bukanlah tempat rekreasi, melainkan suatu ruang terbuka publik di pusat kota, yang bisa dikunjungi bebas tak terikat tiket layaknya suatu tempat wisata. Tapi entah kenapa, monumen ini memang selalu saja menarik tuk dikunjungi layaknya tempat wisata. Monumen yang berdiri gagah di pusat kota Bandung ini seolah punya pesona dan kharisma tersendiri.

Menilik sejarahnya, monumen yang berhadap-hadapan langsung dengan Gedung Sate selaku ikon kota Bandung lainnya ini, diresmikan tahun 1995 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Raden Nana Nuriana. Jika sobat berkunjung ke sini, sobat bisa melihat relief yang melukiskan bagaimana heroiknya perjuangan rakyat Jawa Barat kala melawan penjajah, relief itu dapat dijumpai pada dinding monumen. Pun, di dinding monumen juga terdapat sejenis prasasti dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang Jawa Barat.

Jangan kira wujud monumen ini hanya fisik bangunan yang terlihat saja, sebab di bawah monumen ini masih ada sisi lain yang bisa dieksplore yaitu berupa ruang bawah tanah. Untuk masuk ke ruang bawah ini pun sama, pengunjung tak dipungut biaya sepeserpun. Oh ya, kalau mau masuk ke monumen ini bisa menggunakan pintu samping/belakang ya, karena pintu depan memang hampir tak pernah dibuka.

Bagi sobat yang ingin lebih banyak tahu tentang cerita perjuangan dan sisi heroik rakyat Jawa Barat kala menghadapi penjajah di masa lalu, berkunjung ke monumen ini sangat disarankan. Hanya saja, yang biasa jadi kendala bagi pengunjung adalah, setiap harinya ruas jalan di sekitar monumen jadi salah satu simpul kemacetan di kota Bandung, apalagi di hari libur. Jadi kalau sobat mau berkunjung ke sini, siap-siapin fisik dulu lha ya untuk menghadapi kemacetan, apalagi kalau perjalanan dieksekusi hari minggu pas ada pasar tumpah :)

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar