Mengajak Anak Dekat Dengan Alam

Baca Juga

bermain di sungai
Bermain di sungai
Mengajak anak dekat dengan alam? Untuk anak usia satu sampai lima tahun, bahkan sampai sepuluh tahun, sepertinya itu tidak akan terlalu sulit. Garisbawahi, sepertinya lho ya, begitu kalau menurut saya. Ya, karena pada usia tersebut, apalagi bagi anak yang tidak/tidak terlalu terkontaminasi gadget, ia masih pada pembawaan alaminya, seolah mengerti ia berasal dari alam. Ia akan cenderung penasaran, masih begitu menyatu, jadi bagian dari alam itu sendiri.

Satu tahun pertama, kebanyakan ia hanya akan melihat tembok-tembok, entah itu tembok kamar, tembo rumah, tembok tempat pelayanan kesehatan, intinya ia lebih banyak berada di dalam ruangan. Mungkin saja itu berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Itu juga mungkin yang jadi alasan kenapa setelah bisa merangkak/ berjalan, seorang anak akan cenderung mencari pintu untuk keluar. Ia ingin melihat langit, tertawa melihat kepakan sayap kupu-kupu, gembira melihat kucing, ayam, dan lainnya.

Tapi entahlah, saya bukan ahlinya, hanya saja kata orang tua, memang katanya sering-seringlah mengajak anak main keluar, melihat yang hijau-hijau, disana jangan banyak melarang asal fokus lihat keadaan, tetap waspada dan awasi. Main keluar tentu bukan hanya bagus untuk anak, untuk kita-kita orang tuanya juga, banyak penelitian menyebutkan demikian, bukan? Refreshing itu perlu, sangat perlu, apalagi jika refreshingnya “kembali ke alam”.

Mungkin ini catatan saja, kemarin sewaktu  libur Idul Fitri, kami keluarga besar mengadakan kumpul bareng, dengan bertamasya ke salah satu tempat wisata yang ada di Sumedang yang bertemakan alam, Kampung Karuhun nama tempatnya (mengenai Kampung Karuhun, bisa dibaca di artikel berjudul “Kampung Karuhun, Eco Green Park-nya Sumedang”).

Di tempat wisata itu, anak saya Khansa terlihat begitu girang, ia tak sabar ingin segera nyebur ke sungai, yang memang jadi salah satu daya tarik tempat wisata itu. Saking tak sabarnya, ia yang baru genap dua tahun itu sampai rewel menangis-nangis karena tak sabar harus menunggu orang tuanya berganti baju.

Itu jadi pengalaman pertamanya mandi di sungai. Tak henti-hentinya ia celingak-celinguk melihat suasana sekitar, ini lain dari biasanya, begitu mungkin pikirnya. Hiruk pikuk pengunjung, air deras yang mengalir jernih, kebun pinus, ikan-ikan kecil, bebatuan-besar-besar, hingga binatang-binatang hutan (tupai, monyet, belalang, dll) yang sesekali menampakan diri di atas pohon terlihat seringkali memecah konsentrasinya bermain air.

Sepulangnya, di rumah, ia terus bercerita dengan bahasa planetnya, tentang pengalamannya mandi di sungai, tampak sekali ia begitu ceria saat bercerita. Aura positif kentara terlihat. Ya, ini jadi bukti pepatah-pepatah orang tua benar adanya. Andai sebelumnya saya larang ia nyebur ke sungai karena takut ini itu, mungkin keceriaan itu tak akan saya lihat, dan pengalaman mengasyikkan itu tak akan Khansa dapatkan.

No comments:

Post a Comment