Hormati Leluhur, Tidak Boleh Menyebut Ucing (Kucing) di Desa Cipancar

Baca Juga

Pemandangan di Desa Cipancar
Pemandangan di Desa Cipancar
Sebelum menceritakan tentang judul diatas, terlebih dahulu admin ingin bertanya pada sobat semua, apakah di daerah sobat terdapat sebuah tempat yang mempunyai pantangan tertentu, dan jika pantangan tersebut dilanggar konon bisa mendatangkan sebuah bencana, kesialan, atau lainnya? banyak sekali contoh larangannya seperti misal tidak boleh berkata sembarangan disebuah tempat, tidak boleh memakai/membawa suatu barang disebuah tempat, dan sejenisnya.

Di Sumedang, ada sebuah desa yang menerapkan larangan serupa, boleh percaya boleh juga tidak namun begitulah adanya, desa tersebut adalah desa Cipancar di Kecamatan Sumedang Selatan, di desa ini ada larangan tidak boleh menyebut kata ucing (kucing) baik dalam lisan maupun tulisan. Sepintas, memang agak aneh kalau kita memikirkan larangan yang berbau mitos tersebut, namun tentunya kita sudah mafhum bahwa jika disuatu tempat terdapat larangan atau pantangan untuk tidak melakukan suatu hal, pasti ada "sesuatu" juga dibaliknya.

Pantangan tersebut menjadi kearifan lokal yang jadi ciri khas dari suatu daerah, yang bukan semata-mata berbau takhayul, karena jika kita tahu latar belakang dari adanya pantangan ataupun mitos di suatu daerah, kita akan memahami bahwa mitos yang ada sangat rasional dan ditujukan untuk kebaikan, seperti mitos tidak boleh menyebut ucing/kucing di desa Cipancar yang akan admin ceritakan ini.

Menyangkut apa-apa yang dilarang seperti itu orang sunda biasa menyebutnya dengan istilah "pamali" (pantangan), dan seseorang akan mendapatkan akibat buruk jika melanggarnya. Warga desa Cipancar memiliki sebuah tradisi lisan, bahwa mereka tidak boleh menyebut kata ucing/kucing, larangan tersebut sudah berlaku dari semenjak generasi terdahulu, ia disampaikan dari mulut ke mulut melalui nasihat secara turun temurun dari generasi ke generasi. Untuk menyebut kata ucing, warga desa Cipancar menggantinya dengan kata "enyeng", enyeng sendiri dalam bahasa sunda berarti anak kucing.

Konon jika pantangan atau pamali tersebut dilanggar, bukan individu yang melanggarnya saja yang terkena akibatnya tapi semua warga akan terkena dampaknya, banyak yang percaya kalau sampai ada yang berani mengucapkan kata "ucing" maka akan terjadi musibah besar di desa tersebut, seperti hujan besar, guntur, dan angin ribut, atau bisa juga hanya orang yang mengucapkannya sajalah yang akan mendapatkan celaka. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan tetap menjaga tradisi, warga Desa Cipancar memilih untuk mentaati dan sangat menghormati larangan tersebut, mereka tidak berani menyebut kata ucing, baik di dalam ataupun diluar kampung mereka sendiri.

Ada kisah yang cukup menarik tentang kuatnya warga desa Cipancar memegang larangan ini. Diceritakan suatu ketika ada seorang guru Sekolah Dasar yang berasal dari luar daerah Cipancar ditugaskan untuk mengajar di salah satu SD Di desa Cipancar, ia sama sekali tidak mengetahui tentang adanya larangan tidak boleh menyebut kata ucing/kucing di desa tersebut. Ia sempat kaget ketika mengajar anak didiknya untuk membaca, keanehan terjadi ketika guru baru tersebut mengajar anak didiknya membaca dengan mengeja nama binatang kucing huruf per huruf, saat murid mulai mengeja, mereka mengejanya dengan lancar, tapi saat ejaannya digabung dan dirubah menjadi sebuah kata, semua murid serentak berkata "enyeng". Ia keheranan dan bertanya pada guru yang lain, barulah setelah guru lain menjelaskan tentang larangan di desa tersebu,t si guru baru itupun mengerti.

Dan dimanapun warga Desa Cipancar tinggal, mereka tetap tidak akan berani melanggar larangan tersebut, mereka tidak akan berani menyebut kata ucing/kucing. Lalu kenapa hal tersebut sampai sedemikian rupa? kenapa tradisi tersebut tetap dipegang walau mereka berada di luar kampung halaman? kenapa pantangan tidak boleh menyebut kata ucing/kucing ini sedemikian kuat mereka pegang? ternyata hal tersebut dimaksudkan untuk menghormati leluhur Desa Cipancar.

Ya, ternyata "ucing" adalah nama leluhur warga Desa Cipancar, hal tersebut bukanlah hal yang aneh karena kita pun sudah mengetahui bahwa nama-nama orang jaman dahulu memang kerap menggunakan atau menyisipkan nama binatang untuk nama mereka, nama binatang yang disisipkan pada nama mereka bisa berupa nama gelar ataupun nama sebenarnya, contohnya seperti patih Majapahit yang bernama "Gajah" Mada, atau rajanya yang bernama "Hayam" Wuruk. Raja-raja di Sumedang pun ada yang menggunakannya seperti Prabu "Gajah" Agung atau Prabu "Lembu" Agung.

Makam Keramat Tajur Cipancar
Makam Keramat Tajur Cipancar
Begitu juga dengan leluhur warga desa Cipancar yang bernama Mbah Ucing, dalam sebuah sumber dikatakan bahwa nama sebenarnya dari Mbah Ucing ini adalah Sunan Umbara, tapi admin kurang tahu juga kebenaran nama "Sunan Umbara" dari sumber tersebut karena di area situs atau makam keramat leluhur desa Cipancar (Makam Keramat Tajur Cipancar) admin melihat nama yang tertulis dimakamkan di tempat tersebut adalah Eyang Sutra Ngumbar seperti bisa dilihat di atas (maaf kurang jelas tulisan namanya), agak mirip-mirip memang namanya, dan mungkin nama yang dimaksud dalam sumber tersebut adalah tokoh yang sama dengan yang tertulis di makam Keramat Tajur Cipancar ini. Admin sendiri tidak sempat bertanya pada penduduk sekitar tentang hal tersebut karena waktu yang terbatas ketika berkunjung ke desa Cipancar. Makam ini terletak tidak jauh dari kantor Desa Cipancar yang berada tepat dipusat keramaian desa, letaknya berada di jalan raya yang menghubungkan Cipameungpeuk - Baginda - Cipancar - Citengah.

Karena hal tersebutlah warga Desa Cipancar tidak berani menyebut kata ucing/kucing, karena dengan melakukannya sama saja dengan menyebut nama leluhur mereka sendiri, dan tentunya tidak sopan  menyebut nama seseorang yang dihormati dengan hanya menyebut namanya saja, maka digantilah kata ucing dengan kata enyeng untuk menghindari ketidak sopanan pada leluhur. Hal tersebut juga berlaku pada nama permainan anak seperti kucing-kucingan, warga desa Cipancar menyebutnya dengan enyeng-enyengan, nama tumbuhan kumis kucing pun disebut dengan nama kumis enyeng (*Note : bagi sobat warga desa Cipancar yang kebetulan membaca artikel ini, mohon koreksi jika terdapat keterangan yang salah pada tulisan ini) 

Desa Cipancar berada tidak begitu jauh dari pusat kota Sumedang, jaraknya dari pusat kota kira-kira hanya 5 km-an, desa ini memiliki pemandangan yang sangat indah dengan pemandangan sawah, sungai, dan hamparan bukit-bukit karena ia berada di bawah kaki gunung Kareumbi. Lokasinya berada tidak jauh dari perkebunan teh Margawindu dan terlewati oleh mereka yang akan bertamasya ke Curug Gorobog.

Note : di domain terdahulu (www.wewengkonsumedang.com), artikel ini dapat dijumpai dalam judul artikel "Hormati Leluhur, Tidak Boleh Menyebut Ucing (Kucing) di Desa Cipancar" dengan link sebagai berikut ; "http://www.wewengkonsumedang.com/2014/10/hormati-leluhur-tidak-boleh-menyebut.html"

68 comments:

  1. wah bahaya juga tuh bagi yg belum mengetahuinya trus masuk kedesa cipancar yamas.
    ternyata mitos nggak lekang oleh zaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. di tiap-tiap daerah sebenarnya ada suatu larangan tertentu. tapi "wajib" tidaknya berbeda-beda

      Delete
    2. berbeda beda tetapi satu jua

      Delete
    3. katanya orang kalau tidak tahu katanya gak papa kang ya, katanya sih... tapi kalau udah dikasih tahu baru kalau bisa di hindari...

      Delete
    4. mas yanto: intinya jangan sampai keceplosan mas, harus hati2 dlm berbicara...itu pesan dari saya lho...wkwkwk...salam kopi di pagi hari untuk mas yanto dan semuanya

      Delete
    5. Nah tu... bener sekali tu massss

      Delete
    6. iya mas yanto n kawan2 semua :) kalau ndak sengaja atau kelupaan sih ndak apa2, asal jangan disengaja atau kesannya nantangin, karena walau bagaimanapun adat istiadat ini sudah dipelihara oleh penduduk desa cipancar dari generasi ke generasi :)

      Delete
  2. oh...nggak terasa malah dapat pertamax nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sambil baca artikelnya Kang Jery saya sambil
      Denger obrolanya Mas Yanto dan Pak Budy deh :)

      Delete
    2. yuk yuk yuk ngopi dulu yuuukk :)

      Delete
  3. Kadang ndak mesti ucapan yg harus dijaga ya mas, pernah juga lewat sebuah jembatan harus bunyiin klakson. Karena memang udah jd tradisi masyrkt disana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, tradisi ataupun adat istiadat disetiap daerah pastnya berbeda-beda ya :)

      Delete
  4. Wah bisa begitu ya mas, kalau yang punya kucing sempat keceplosan gimana tu

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau keceplosan sih katanya ndak apa-apa mas, asal jangan disengaja

      Delete
  5. aneh ya, padahal cuma nama panggilan doang ya, Tpi giliran gajah mada, Hayam wuruk tidak apa-apa [-(

    ReplyDelete
  6. jadi saat saya maen ke Desa Cipancar ngga boleh bilang ucing ya kang, na gimana coba kalau tiba-tiba pas saya ada di atas motor, tiba-tiba ada kucing yang menyeberang/melintas, kemudian saya kaget, lantas keceplosan bilang ucing..gimana coba?
    semoga kalau ngga sengaja bilang kucing mah tidak apa-apa atuh yah. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ndak sengaja mah ya ndak apa2 atuh kang :)

      Delete
  7. Sesuai yang ada di Qur'an mas...
    Allah menghiakan suatu perkara yang dipercaya hambanya :)

    ReplyDelete
  8. kearifan lokal dan kekayaan budaya yang harus dihormati

    ReplyDelete
  9. Wih, beneran nih, Mas?? Unik juga, ya.... Tapi kalau lagi berada di luar desa, mungkin warga sana juga masih segan mengucapkan kata 'kucing/ucing' kali ya, soalnya sudah menjadi kebiasaan.... *sok tau

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang begitu mas, diluar desa pun ndak ada yang berani :)

      Delete
  10. Baru tau Kang Jery kalau di Desa Cipancar tidak
    Boleh panggil Ucing dengan Kucing. jadi pangeling eling
    Nih Kang Jerry makasih

    ReplyDelete
  11. concern saya persis sama kang hadi tea. kalo nggak sengaja kesebut gimana Kang, dimaklumi bukan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kang, pastinya kalu ndak sengaja mah ndak apa2, asal jangan menyengaja n terkesan nantangin aza :)

      Delete
  12. Di sini jugak ada, Bang.. Ngga boleh ketawa malem-malem, karena bakalan ada yang ikut ketawa.. Horor lah pokoknya.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah kalau begitu ndak boleh nonton acara komedi yang biasa disiarkan malam2 dong ya mbak =))

      Delete
  13. wah lucu juga kang kalo kata ucing jadi enyeng hehe..kenapa ga kata meong aja yah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin karena enyeng itu kan artinya kucing2 juga kang, dan lebih nyunda hhe

      Delete
  14. Wah desa saya terkenal juga yaa.. terlepas dari musibah/bencana/dampak buruk, orang cipancar hanya ingin menjaga tradisi yg patut dipertahankan..

    ReplyDelete
  15. aneh juga yah, kalo di daerah saya sudah tidak ada yang beginian...

    ReplyDelete
    Replies
    1. setiap daerah pastinya berbeda-beda kan mas

      Delete
  16. wah ada ada aja ya, saya baru dengar yang beginian

    ReplyDelete
  17. saya malah bau tau ni,kayak semacam mitos gitu ya mas..

    ReplyDelete
  18. harus hati2 ngomong klo ada disana ya mas,jgn sampai bilang ucing ucing ucing :D

    ReplyDelete
  19. Kerafian lokal tradisi di suatu daerah dibuat dan diberlakukan sebenarnya memiliki maksud dan tujuan tertentu ya Kang, terutama sebagai bahan pendidikan moral dan etika, nmun hal ini hanya di telaah secara garis besarnya saja kebanyakan dari setiap orang, padahal bila mau mengkajinya lebih jauh ini merupakan sebuah pembelajaran pesan moral yang tersirat dalam sekali bila di jabarkan dengan baik. he,, he,,he,,


    Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya pak indra, begitulah kira2...terima kasih atas tambahannya hhe *sambil ngelamun* :-)

      Delete
  20. harus menghargai disetiap daerah itulah pada intinya, karena terkadang memang tidak bisa di tebak dengan akal pikiran. daerah biasanya memiliki cerita dan pantangan sendiri sendiri...

    ReplyDelete
  21. Terkesan aneh kalau bukan dari golongan mereka. Hehehe

    ReplyDelete
  22. wah unik juga ya mas, tidak boleh menyebut kucing karena dikaitkan dengan nama leluhurnya desa tsb...salam hangat

    ReplyDelete
  23. Salut sekali gan dengan desa tersebut, bisa menjaga tradisi yang sudah lama sekali hingga sekarang dizaman yang maju dan sudah banyak yang tidak percaya soal mitos kaya gituan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mas...intinya penduduk desa cipancar ingin menjaga tradisi dan adat istiadat yang telah dipertahankan sejak generasi terdahulu

      Delete
  24. menghargai dan tidak boleh menghina apapun keadaan suatu obyek yang mungkin adda yang tidak berkenan di hati, mungkin seperti itu intinya ya mas

    ReplyDelete
  25. wah baru tahu nih mas kalau ternyata ada desa yang nggak memperbolehkan orang menyebut sesuatu, jadi kalau kita pendatang baru disana, kita harus bisa mengormati dan menghargai nya ya, thanks mas buat informasinya ;)

    ReplyDelete
  26. selamat pagi mas, iya di daerah saya juga terdapat beberapa tempat yang mempunyai pantangan tertentu dan jika pantangan tersebut dilanggar bisa mendatangkan sebuah bencana...

    ReplyDelete
  27. Kalau urang sunda dibilang PAMALI pasti tidak akan melakukan sesuatu yang sipatnya pamali,itulah wujud dari penghormatan kepada adat istiadat leluhurnya,saya sendiri kalau mau melakukan sesuatu namun Pamali,pasti ada keraguan dihati,mendingan nggak uasah saja deh daripada kumaonam nantinya hehehe

    ReplyDelete
  28. Kayaknya di daerah tempat tinggal saya ngga ada pantangan apapun deh, kalau misalkan ada pantangan di daerah saya jadi serem dong hihihi. Tapi aneh juga iya dilarang menyebut kucing segala hehe

    ReplyDelete
  29. kebetulan di kalbar juga ada suatu desa yang diserang bencana karena menertawakan dan mempermainkan kucing pada saat pesta habis panen. mungkin dibeberapa daerah ada juga cerita yang menarik seperti ini walau dalam bentuk yang berbeda. ok makasih telah berbagi dan salam sahabat blogger.

    ReplyDelete
  30. Bangga sekali jadi orang Cipancar.. ini daerah saya, tmpt saya dilahirkan. Btw rasanya ingin cepat pulaaaaangggg

    ReplyDelete
  31. Dengan mengucap syukur saya Juru KUNCI MAKAM TAJUR CIPANCAR,mengucapkan terima kasih atas telah dimuatnya cerita tersebut. namun seribu kali maaf saya mohonkan bahwa cerita yang di exfos ini ada ketidak sesuain dengan yang sesungguhnya. terutama dengan nama leluhur yang anda sebutkan. untuk lebih jelas dan akurat anda bisa datang kerumah KUNCEN. Sekian terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih pak atas koreksinya...mohon maaf atas kesalahan dalam artikel ini, mohon diluruskan pak agar bisa saya edit lagi :) salah satu referensi yang saya gunakan dalam membuat artikel ini selain dari teman di Cipancar juga dari inilah.com

      Delete